LAPORAN
PENELITIAN
PENERAPAN SISTIM KREDIT SEMESTER
TERHADAP EFEKTIFITAS BELAJAR SISWA
SMA NEGERI 3 PURWOKERTO
Oleh:
Gagas Restu S
Vernanda Abimantrana
SMA
NEGERI 3 PURWOKERTO
TAHUN AJARAN 2013/2014
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT. Dengan rahmat dan karunianya kami dapat
menyelesaikan karya tulis ini yang berjudul “ Laporan Penelitian Penerapan
Sistem Kredit Semester Terhadap Motivasi Belajar SMA Negeri 3 Purwokerto”
dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.
Karya
tulis ini disusun untuk menyelesaikan tugas bahasa Indonesia tahun ajaran
2013/2014.
Ucapan
terimakasih kami ucapkan pada yang terhormat:
1. Ibu
Endah Nurul Hidayati S pd selaku guru pembimbing.
2. Adik-adik
kelas XIPA dan XIPS SMA Negeri 3 Purwokerto.
3. Teman-teman
kelas XI IPA 4 yang telah membantu kami dalam menyelesaikan karya tulis ini.
4. Semua
pihak yang telah membantu menyelesaikan karya tulis ini.
Semoga Karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami
menyadari dalam pembuatan karya tulis ini masih banyak kekurangan, oleh karena
itu kami mengharap kritik dan saran semua pihak.
Purwokerto,
18 Febuari 2014
Peneliti
Daftar
Isi
Judul
Daftar isi
Kata Pengantar
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
1.5 Metode Penelitian
BAB II : PEMBAHASAN
BAB III : PENUTUP
A.
Kesimpulan
B. Saran
C. Lampiran
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT. Dengan rahmat dan karunianya kami dapat
menyelesaikan karya tulis ini yang berjudul “ Laporan Penelitian Penerapan
Sistem Kredit Semester Terhadap Motivasi Belajar SMA Negeri 3 Purwokerto”
dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.
Karya
tulis ini disusun untuk menyelesaikan tugas bahasa Indonesia tahun ajaran
2013/2014.
Ucapan
terimakasih kami ucapkan pada yang terhormat:
1. Ibu
Endah Nurul Hidayati S pd selaku guru pembimbing.
2. Adik-adik
kelas XIPA dan XIPS SMA Negeri 3 Purwokerto.
3. Teman-teman
kelas XI IPA 4 yang telah membantu kami dalam menyelesaikan karya tulis ini.
4. Semua
pihak yang telah membantu menyelesaikan karya tulis ini.
Semoga Karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami
menyadari dalam pembuatan karya tulis ini masih banyak kekurangan, oleh karena
itu kami mengharap kritik dan saran semua pihak.
Purwokerto,
18 Febuari 2014
Peneliti
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Secara
umum, masyarakat mengetahui tentang program SKS hanya diterapkan dan dijalankan
di Perguruan Tinggi. Masyarakat masih belum banyak yang mengetahui bahwa
program SKS diterapkan di SMA Negeri 1 Probolinggo. Program SKS ini adalah
program yang memfasilitasi siswa untuk belajar lebih cepat bagi yang memiliki
kemauan dan kemampuan. Sehingga waktu belajar 3 tahun bisa ditempuh 2,5 tahun
bahkan 2 tahun.
Namun, program SKS yang baru diterapkan ini juga memiliki kekurangan di
bagian tertentu. Program SKS berbeda dengan program akselerasi yang lebih
banyak dikenal dan diterapkan. Program SKS dibentuk melalui paket-paket materi
belajar. Masalahnya, program SKS baru diterapkan pada saat siswa semester 2,
berbeda dengan program akselerasi yang diterapkan mulai semester 1. Sehingga,
siswa dituntut untuk belajar ekstra keras mulai semester 2 untuk menghabiskan
materi 3 tahun di SMA.
Solusi untuk meminimalkan kekurangan program SKS ini adalah dengan selalu
melakukan perbaikan di semua bidang. Dukungan dan partisipasi dari siswa-siswi
maupun dari wali murid sangat besar pengaruhnya bagi kesuksesan penerapan
program SKS ini. Hubungan yang tepat antara pihak sekolah, siswa dan wali murid
akan membuat program SKS ini berhasil dan memberikan manfaat yang
maksimal.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka disusunlah karya ilmiah yang berjudul “
Penerapan
Sistim Kredit Semester Terhadap Efektifitas Belajar Siswa SMA Negeri 3
Purwokerto” dengan harapan bahwa karya ilmiah ini dapat memberikan
sedikit informasi dan gambaran tentang seluk-beluk program SKS ini bagi siswa
dan wali murid. Selain itu, diharapkan bisa memberikan gambaran tentang respon,
keinginan, dan usulan, dari siswa bagi pihak sekolah mengenai penerapan program
SKS ini di SMA Negeri 3 Purwokerto guna terciptanya efekfitas program SKS yang
maksimal.
1.2
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang, masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.2.1 Apakah program SKS itu?
1.2.2 Bagaimana pendapat siswa SMA
Negeri 1 Probolinggo terhadap program SKS tersebut?
1.2.3 Bagaimana tingkat efektivitas
program SKS tersebut di SMA Negeri 3 Purwokerto?
1.3
TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan yang akan
dicapai dalam penelitian sebagai berikut:
1.3.1 Mendeskripsikan tentang program
SKS.
1.3.2 Mendeskripsikan pendapat siswa SMA
Negeri 1 Peobolinggo terhadap program SKS.
1.3.3 Mendeskripsikan tingkat
efektivitas program SKS tersebut di SMA Negeri 3 Purwokerto.
1.4 MANFAAT
PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan
dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1.4.1 Bagi
Penulis
Penelitian ini untuk
memenuhi tugas Bahasa Indonesia seri 3 mengenai Penulisan Karya Ilmiah remaja
dan untuk menjadi bekal penulisan skripsi di Perguruan Tinggi.
1.4.2 Bagi Siswa
Mengetahui program SKS lebih
detail dan sebagai media untuk menyalurkan aspirasi kepada pihak sekolah.
1.4.3 Bagi
Sekolah
Mengetahui aspirasi siswa,
sebagai gambaran tentang penerapan program SKS dilihat dari sudut pandang
siswa.
1.5 METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.5.1 Metode
wawancara kepada narasumber.
1.5.2 Metode
penelusuran angket mengenai pendapat siswa.
1.5.3 Metode
kajian pustaka.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Program SKS Program Sistem Kredit Semester (SKS) merupakan sistem penyelenggaraan
program pendidikan yang membebaskan peserta didik untuk menentukan sendiri
berapa banyak beban belajar yang akan diikuti pada tiap semester. Program SKS
umumnya diterapkan di perguruan tiggi. Namun, mulai tahun 2007 sudah mulai
diterapkan di sekolah menengah atas seperti di SMAN 78 Jakarta. SMA Negeri 3
Purwokerto juga menerapkan program ini mulai tahun 2013.
Pada penerapan program SKS ini, setiap siswa wajib mengambil minimal 20 SKS.
Apabila kemampuan siswa dalam belajar cukup tinggi, maka berhak mengambil
tambahan 4 SKS menjadi 24 SKS atau 28 SKS untuk kelas reguler. Bahkan siswa
dapat mengambil 32 SKS untuk siswa cerdas dan istimewa setara dengan program
akselerasi.
Program SKS berbeda dengan program akselerasi. Program SKS dilihat
berdasarkan IP (Indeks Prestasi) berjalan. Apabila IP siswa bagus dan maksimal,
maka siswa tersebut dapat menuntaskan semua materi 3 tahun dalam 4 seri dan
selesai dalam 4 semester atau 2 tahun. Penjurusan menuju kelas IPA dan IPS pun
dilaksanakan pada semester 2 di kelas 10. Sehingga beban belajar dalam setahun
masa kelas 10 wajib tuntas hanya dalam waktu 6 bulan.
Sedangkan program akselerasi menuntut siswa untuk mengemban beban
belajar yang seharusnya ditempuh 3 tahun harus diselesaikan 2 tahun. Sehingga
materi 1 semester hanya diberikan 1 cawu atau 4 bulan. Materi yang diberikan
dalam program akselerasi sama seperti sistem paket, yaitu sudah diatur
dan diterapkan mulai siswa masuk sekolah pada semester 1 pada kelas 10. Program
akselerasi hanya bisa diikuti oleh siswa yang memiliki
Intelligence Quotient
(IQ) minimal 130, sedangkan program SKS bisa diikuti oleh semua siswa asal
mempunyai kemauan untuk menyelesaikan masa belajarnya hanya 2 tahun.
Latar belakang dilaksanakannya program SKS di SMA Negeri yaitu untuk
memberikan layanan kepada siswa yang mempunyai kecepatan belajar tinggi, adanya
kebijakan kementerian pendidikan bahwa harus memperhatikan potensi dari tiap
siswa, sekolah yang sudah berakreditasi A dan berstandar Internasional (RSBI)
wajib menerapkan program SKS yang diatur dalam IP 19/2005, serta kesiapan
sekolah. Kesiapan sekolah memiliki peran penting dalam pelaksanaan program SKS
ini. Apabila siswa memliki potensi, namun sekolah masih belum punya kesiapan,
maka program SKS ini tidak dapat berjalan dengan baik.
Program SKS ini memiliki tujuan melayani minat dan potensi siswa dalam
belajar, mengembangkan kemandirian siswa, dan agar pembelajaran lebih fokus,
luas, dan mendalam. Semua materi yang diberikan pada siswa yang mengambil SKS
32, 28, dan 24 memiliki bobot yang sama hanya saya berbeda pada waktu
penyelesaiannya. Bagi siswa yang mengambil SKS 28 dan 24, maka pada semester 5
hanya terdiri dari 3 bidang studi. Sisanya akan dilaksanakan pendalaman materi
untuk persiapan menghadapi Ujian Nasional (UNAS). Sehingga bagi anak yang
mengambil SKS 28 dan 24 akan lebih siap.
Pelaksanaan program SKS ini sudah diatur dalam peraturan pemerintahan.
Diantaranya UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 pasal 12 ayat 1F yang berbunyi “Setiap
peserta didik dalam satuan pendidikan dalap menyelesaikan pendidikannya sesuai
dengan kecepatan belajar masing-masing yang tidak menyimpang dati batas waktu
yang ditetapkan.” Dasar pelaksanaan lain adalah BNSP pada April 2010. Serta
PERMENDIKNAS No. 81 A tahun 2013 pada lampiran 4 yang berbunyi “Sekolah
akreditasi A dapat menyelenggarakan program SKS.” Sebagai sekolah akreditasi A,
SMA Negeri 1 Probolinggo menyelenggarakan program SKS ini.
Program SKS ini memiliki berbagai manfaat, baik untuk siswa dan sekolah tiu
sendiri. Bagi sekolah, program SKS ini dimungkinkan tenaga pendidik atau guru
akan bisa memperbanyak jam pelajaran sesuai dengan beban SKS tiap bidang studi,
dan juga dapat memfalitasi untuk percepatan dan masa belajar bagi siswa
sehingga akan efisien dalam anggaran. Bagi siswa yang mempunyai kemampuan
belajar tinggi dapat menghemat waktu, biaya, dan umur. Sehingga dapat lebih
fokus pada saat Perguruan Tinggi nanti. Sedangkan bagi siwa yang standar
dimungkinkan akan lebih siap dalam menghadapi Ujian Nasional (UNAS) dan
Perguruan Tinggi Negeri (PTN) mengingat waktu tambahan jam pelajaran cukup
maksimal sehingga persiapannya lebih maksimal dan matang. Bagi siswa yang
mempunyai kemampuan tinggi dan standar masing-masing mimiliki keuntungan dari
program SKS ini.
Selama melaksanakannya program SKS ini, SMA Negeri 3 Purwokerto telah
menghadapi berbagai kendala. Kendala-kendala tersebut adalah dalam
pendistribusian mata pelajaran mengingat SMA Negeri 3 Purwokerto baru
melaksanakan program SKS ini. Masalah penjadwalan mata pelajaran juga menjadi
kendala dilaksanakannya program SKS. Pada semester terakhir, banyak siswa yang
pulang hingga sore hari namun jumlah SKS yang diambil hanya sedikit. Hal itu
disebabkan karena kesalahan dalam komputerisasi, sehingga ada beberapa jam
kosong dalam 1 hari. Serta pemetaan SK/KD memerlukan revisi atau penyempurnaan.
Kendala-kendala lain juga disebabkan dari pihak siswa. Dengan adanya
moving
class sering terjadi siswa tidak masuk kelas sesuai jadwal atau terlambat.
Berdasarkan kendala-kendala yang disebutkan di atas, SMA Negeri 3 Purwokerto
sudah mengantisipasi dengan beberapa solusi. Diantaranya, sekolah sudah
merevisi atau menyempurnakan program komputerisasi, dan adanya perbaikan
rasionalisasi materi dengan kecukupan jam bagi siswa angkatan ke-2. Sehingga
tidak akan ada lagi siswa yang pulang hingga sore tapi jumlah SKS yang diambil
sedikit. Selain itu, guru lebih intensif mengawasi siswa tertentu yang sering
datang terlambat ke kelas.
Program SKS ini memiliki keunggulan, yaitu bagi siswa yang memiliki
kecepatan tinggi dapat menyelesaikan masa belajarnya hanya 2 tahun dan berjalan
secara alami. Sedangkan bagi siswa yang standar, dapat menikmati masa remajanya
dengan waktu normal dan input pengetahuan lebih dalam serta kegiatan
ekstrakurikuler dapat dilaksanakan dengan baik.
Menurut Bapak Slamet Prasodjo selaku
pioneer penerapan program
SKS di SMA Negeri 3 Purwokerto, pada tahap ke-1 memang ada kendala dalam
pendistribusian mata pelajaran dan penjadwalan tetapi pada tahun ke-2 dan 3
akan lebih efektif dan efisien sehingga diharapkan output siswa lebih
berkualitas.
Dengan adanya program SKS ini diharapkan dapat menciptakan kualitas output
yang semakin baik dan dapat memasuki PTN atau dunia kerja sesuai harapan semua
pihak.
2.2 Pendapat Siswa SMA Negeri 3 Purwokerto tentang Program SKS Berdasarkan hasil analisis data dari 20 angket yang disebar diperoleh
jawaban dari responden yang beraneka ragam. Analisis data yang didapat akan
disajikan dalam jawaban responden dari setiap poin yang terdiri dari 9
pertanyaan.
A. Jawaban responden mengenai pengetahuan tentang program SKS Sebanyak 50% responden mengatakan bahwa program SKS adalah program
pembelajaran dengan sistem kredit semester yang diterapkan di Perguruan Tinggi.
Sebanyak 45% responden yang lain mengatakan bahwa program SKS adalah program
pembelajaran sekolah yang memberi fasilitas bagi seluruh siswa untuk menentukan
jumlah beban belajar yang diambil pada 1 semester. Banyaknya jumlah beban yang
diambil disesuaikan dengan kemampuan siswa itu sendiri, sehingga tidak
membebani siswa. Dengan adanya kebebasan memilih jumlah beban setiap semester,
maka akan memungkinkn bagi siswa yang memiliki kecepatan belajar lebih cepat
bisa mengambil SKS maksimal sehingga bisa menyelesaikan masa sekolah 3 tahun
menjadi 2 tahun. Sebaliknya, bagi siswa yang ingin belajar dengan santai maka
bisa mengambil SKS sesuai kemampuan dan keinginannya. Hanya 5% responden
mengatakan bahwa program SKS adalah program yang menyulitkan guru dan siswanya.
B. Jawaban responden mengenai pendapat tentang penerapan program
SKS Sebanyak 65% siswa setuju dengan penerapan program SKS di SMA Negeri 3
Purwokerto, karena menurut mereka penerapan program SKS dapat digunakan sebagai
sarana latihan saat mengambil beban belajar di Perguruan Tinggi nanti. Program
SKS juga dapat memotivasi kemauan belajar siswa untuk mempertahankan IP yang
sudah diraih sehingga siswa tidak bermalas-malasan dalam belajar karena dengan
adanya program SKS kegiatan siswa lebih padat sehingga secara tidak langsung
membuat siswa untuk belajar rajin. Sebanyak 35% responden kurang setuju dengan
penerapan program SKS karena mereka menilai penerapan program SKS seharusnya
ada di Perguruan Tinggi, bukan di tingkat SMA. Hal ini dapat mengakibatkan
siswa merasa terbebani dalam pembelajaran, sehingga hasil belajar kurang
maksimal. Siswa juga menilai bahwa sekolah masih kurang siap dalam melaksanakan
program SKS ini.
C. Jawaban responden mengenai kelebihan program SKS Sebanyak 75% responden mengatakan bahwa kelebihan program SKS adalah bagi
siswa yang memiliki kecepatan belajar tinggi dapat lulus hanya dalam 2 tahun.
Hal ini dapat menghemat biaya sekolah 1 tahun dan menghemat umur. Sebanyak 15%
responden mengatakan bahwa kelebihan program SKS bagi siswa yang memiliki
kecepatn belajar tinggi dapat lulus 2 tahun dan bagi yang menyelesaikan sekolah
selama 2,5 tahun atau 3 tahun akan memiliki waktu yang lebih lama untuk
mempersiapkan Ujian Nasional karena bimbingan penuh akan dimulai pada semester
6. 10% responden mengatakan bahwa program SKS akan memungkinkan siswa belajar
materi yang belum dipelajari oleh sekolah lain, karena pemetaan materi program
SKS berbeda dengan pemetaan materi program reguler.
D. Jawaban responden mengenai kekurangan program SKS
Sebanyak 65% responden mengatakan bahwa kekurangan program SKS antara lain
adalah program SKS menyebabkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam kelas
sangat terburu-buru untuk mengejar target pemahaman materi. Akibatnya materi
yang disampaikan kurang mendalam sehingga siswa harus belajar sendiri dan
mencari referensi lain. Hal ini tentunya akan menguras tenaga dan pikiran
siswa. 20% responden mengatakan bahwa program SKS mengurangi minat dan waktu
siswa untuk mengikuti ekstrakurikuler sehingga prestasi sekolah bidang
non-akademik bisa turun. 10% responden mengatakan bahwa mental siswa SMA belum
siap sepenuhnya untuk mengikuti program SKS sehingga mereka akan merasa
terbebani. 5% responden mengatakan bahwa pemetaan materi belajar model program
SKS masih belum maksimal.
E. Jawaban responden mengenai tingkat efektivitas penerapan program
SKS
Sebnyak 55% responden mengatakan bahwa penerapan program SKS di SMA Negeri 3
Purwokerto kurang efektif, karena penyampaian materi sangat terburu-buru
sehingga ilmu yang diterima siswa tidak maksimal. Hal ini mengakibatkan nilai
siswa menurun. Sebanyak 20% responden mengatakan cukup efektif karena meskipun
masih banyak siswa yang keberatan dengan program ini, namun program SKS ini
menjadi wadah bagi siswa yang memiliki kecepatan belajar tinggi. 20% responden
mengatakan sangat efektif krena di tahun pertama sekolah berhasil meluluskn 18
siswa yang belajar dalam waktu 2 tahun dari program IPA dan IPS. 5% responden
tidak megetahui tentang tingkat efektivitas penerapan program SKS di SMA Negeri
1 Probolinggo.
F. Jawaban responden mengenai kendala yang dihadapi selama
mengikuti penerapan program SKS
Sebanyak 75% responden mengatakan bahwa kendala yang dihadapi adalah sulit
membagi waktu antara urusan sekolah dan urusan pribadi, ada banyak ulangan dan
tugas yang waktunya selalu bersamaan, sering mengalami pembelajaran singkat
padahal materi yang disampaikan sangat banyak, serta tidak ada waktu untuk
kegiatan non-akademis. 15% responden memiliki kendala sulit mencari buku
referensi karena materi yang dipelajari tidak runtut namun disesuaikan dengan
pengelompokan materi. 5% responden mengatakan bahwa kendala dalam penerapan
program SKS ini ada kelas yang kosong di tengah sehingga meskipun mengambil SKS
sedikit tetap pulang siang. 5% responden tidak memahami program SKS karena
kurangnya sosialisasi tentang SKS.
G. Jawaban responden mengenai solusi untuk mengatasi kendala yang dialami
dalam penerapan program SKS
Sebanyak 70% responden mengatur waktu dengan baik di sekolah dan di rumah,
mengerjakan tugas saat ada jam pelajaran kosong sehingga di rumah bisa belajar
materi yang lain, serta belajar 2 kali untuk mengejar materi yang belum
dipahami. Sebanyak 15% responden mencari buku paket dan referensi lain yang
lebih luas dalam pembahasan materi. Sebanyak 10% responden mengurangi jumlah
SKS yang diambil pada semester berikutnya. Hanya 5% responden mengatakan bahwa
pihak sekolah belum menemukan solusi bagi kendala yang dihadapi siswa.
H. Jawaban responden mengenai saran terhadap penerapan program SKS
80% responden menyarankan agar program SKS tetap dilakukan dan ditingkatkan
di SMA Negeri 1 Probolinggo dengan pengaturan yang lebih baik, dilakukan
perbaikan dalam penyebaran jadwal pelajaran, jadwal ulangan, penyebaran materi
pelajaran pada program SKS, dan pembagian kelas yang benar antara tiap SKS
sehingga siswa yang berbeda jumlah SKS saling menunggu. 10% responden
menyarankan untuk jurusan IPA pada pelajaran MIPA (Matematika, Biologi, Kimia,
dan Fisika) jangan dijadikan hanya 4 seri saja (1 seri 1 semester). Sebaiknya
dijadikan dalam 5 seri supaya siswa lebih memahami materi dan tidak lupa materi
ketika akan mendekati Ujian Nasional, kecuali bagi yang memang dalam program 2
tahun. 10% responden menyarankan program SKS di SMA Negeri 1 Probolinggo
ditiadakan, karena tidak semua anak mampu menjalaninya.
I. Jawaban responden mengenai harapan terhadap
pererapan program SKS
Dari 85% responden mengharapkan agar penerapan program SKS di SMA Negeri 1
Probolinggo bisa menjadi lebih baik dan lebih sukses setiap tahunnya sehingga
nilai siswa selalu meningkat. Selain itu, program SKS diharapkan dapat lebih
efektif sehingga tidak merugikan siswa dalam belajar. Serta diharapkan program
SKS ini tidak berhenti di tengah jalan. 10% responden mengharapkan untuk
jurusan IPA pada pelajaran MIPA (Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika)
dijadikan dalam 5 seri untuk yang mengambil 24 dan 28 SKS. Sehingga pada
semester 6 siswa lebih memahami dan siap menghadapi Ujian Nasional (UNAS).
Jadi, untuk yang lulus 3 tahun, nilainya akan bertambah naik. 5% responden
mengharapkan agar sekolah bisa lebih siap dalam program SKS sehingga siswa
tidak menjadi kelinci percobaan.
Dari hasil analisis data diatas dapat diketahui tentang pendapat siswa SMA
Negeri 1 Probolinggo mengenai penerapan program SKS yaitu bahwa sebagian besar
siswa sudah tahu, mengerti, dan setuju dengan penerapan program SKS yang
dilaksanakan di SMA Negeri 1 Probolinggo. Menurut mereka kelebihan program SKS
adalah bagi siswa yang memiliki kecepatan belajar tinggi dapat lulus hanya
dalam 2 tahun. Hal ini dapat menghemat biaya sekolah 1 tahun dan menghemat
umur. Sedangkan kekurangan program SKS antara lain adalah program SKS menyebabkan
kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam kelas sangat terburu-buru untuk mengejar
target pemahaman materi. Akibatnya materi yang disampaikan kurang mendalam
sehingga siswa harus belajar sendiri dan mencari referensi lain. Hal ini
tentunya akan menguras tenaga dan pikiran siswa.
Namun menurut mereka, penerapan program SKS di SMA Negeri Kota Probolinggo
kurang efektif, karena penyampaian materi sangat terburu-buru sehingga ilmu
yang diterima siswa tidak maksimal. Hal ini mengakibatkan nilai siswa menurun.
Mereka mengatakan bahwa kendala yang sering dihadapi adalah sulit membagi
waktu antara urusan sekolah dan urusan pribadi, ada banyak ulangan dan tugas
yang waktunya selalu bersamaan, sering mengalami pembelajaran singkat padahal
materi yang disampaikan sangat banyak, serta tidak ada waktu untuk kegiatan
non-akademis. Sedangkan solusi yang mereka lakukan untuk mengatasi kendala yang
ada antara lain mengatur waktu dengan baik di sekolah dan di rumah.
Mereka menyarankan agar program SKS tetap dilakukan dan ditingkatkan di SMA
Negeri 1 Probolinggo dengan pengaturan yang lebih baik, dilakukan perbaikan
dalam penyebaran jadwal pelajaran, jadwal ulangan, penyebaran materi pelajaran
pada program SKS, dan pembagian kelas yang benar. Mereka berharap agar
penerapan program SKS di SMA Negeri 1 Probolinggo bisa menjadi lebih baik dan
lebih sukses setiap tahunnya sehingga nilai siswa selalu meningkat. Selain itu,
program SKS diharapkan dapat lebih efektif sehingga tidak merugikan siswa dalam
belajar. Serta diharapkan program SKS ini tidak berhenti di tengah jalan.
2.3 Tingkat Efektivitas Penerapan Program SKS di
SMA Negeri 3 Purwokerto
Berdasarkan dari kendala yang dihadapi siswa dan sekolah dalam penerapan
program SKS serta solusi yang dilakukan baik dari pihak siswa maupun dari pihak
sekolah dapat diketahui bahwa penerapan program SKS di SMA Negeri 3 Purwokerto cukup
efektif. Sebagai sekolah yang baru melaksanakan program SKS tentu masih banyak
kekurangan dan masalah yang dihadapi, baik bagi pihak sekolah maupun pihak siswa.
Sekolah memiliki kendala seperti penyebaran jadwal pelajaran dan penyebaran
materi pelajaran yang kurang sempurna masih terjadi di tahun pertama penerapan
program SKS. Hal ini terjadi karena ada kesalahan program komputerisasi. Namun
sekolah segera berusaha untuk memperbaiki segala bidang dan berusaha untuk
meminimalisir kekurangan yang mungkin ada dalam pelaksanaan program SKS
kedepannya.
Kesungguhan sekolah untuk meminimalisir masalah ini terbukti dengan semakin
optimalnya persiapan dan pelaksanaan program SKS untuk tahun berikutnya, yaitu
tahun kedua dan ketiga penerapan program SKS. Meskipun begitu tetap dibutuhkan
perbaikan di segala bidang untuk meningkatkan efektivitas penerapan program
SKS.
Disisi lain, masalah yang dihadapi siswa memang cukup banyak pada awal
penerapan program SKS. Masalah yang dihadapi antara lain jadwal pelajaran yang
belum sempurna membuat siswa pulang terlalu sore, sehingga tidak sempat belajar
dan mengerjakan tugas di rumah. Namun pada tahun kedua ini siswa sudah mulai
beradaptasi dengan penerapan program SKS dan memiliki solusi pribadi untuk
mengatasi kendala yang dihadapinya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
3.1.1 Program Sistem Kredit Semester (SKS) merupakan sistem
penyelenggaraan program pendidikan yang membebaskan peserta didik untuk
menentukan sendiri berapa banyak beban belajar yang akan diikuti pada tiap
semester. Program SKS ini memfasilitasi siswa yang mempunyai kemampuan belajar
tinggi dapat menyelesaikan masa belajarnya selama 2 tahun. Sedangkan bagi siswa
yang standar dapat dimungkinkan akan lebih siap dalam menghadapi UNAS/PTN
mengingat waktu tambahan jam belajar cukup banyak.
3.1.2 Siswa SMA Negeri 3 Purwokerto sudah mengerti dan setuju dengan adanya
penerapan program SKS. Siswa juga mendukung dengan adanya program SKS meskipun
masih ada kendala selama pembelajaran. Mereka berharap agar penerapan program
SKS bisa lebih baik lagi kedepannya dan selalu melakukan perbaikan di segala
bidang.
3.1.3 Berdasarkan dari kendala yang dihadapi siswa dan sekolah dalam
penerapan program SKS serta solusi yang dilakukan baik dari pihak siswa maupun
dari pihak sekolah dapat diketahui bahwa penerapan program SKS di SMA Negeri 3
Purwokerto cukup efektif.
3.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan adalah sebagai berikut:
3.2.1 Untuk mendapatkan hasil yang lebih valid, sebaiknya menggunakan jumlah
responden yang lebih banyak.
3.2.2 Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendetail tentang program SKS,
selain melakukan kajian pustaka, juga menanyakan tentang program SKS kepada
guru yang lebih mengatahui.