Sabtu, 24 Juni 2023

Coba Koding

Coba Koding
Mini Game HTML

Mini Game

Rabu, 26 Oktober 2022

CONTOH LAPORAN MAKALAH SEJARAH SENI KESENIAN KENTONGAN BANYUMAS

 

LAPORAN MAKALAH SEJARAH SENI KESENIAN KENTONGAN BANYUMAS

Oleh :
Vernanda Abimantrana ( 2501415028 )
Pendidikan Seni Musik

Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Semarang
2016


KATA PENGANTAR

         
          Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang Kesenian Kenthongan di Banyumas dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Siti Aesijah dan Bapak Hafid Zuhdan Batiar selaku Dosen mata kuliah Sejarah Seni UNNES yang telah memberikan tugas ini kepada saya.                                                  .
      

          Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Kesenian yang terdapat di Banyumas khususnya kesenian Kenthongan. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.                                            .
      

          Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi Saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Purwokerto, 1 Juni 2016

 

 

 

 

 


Vernanda Abimantrana




DAFTAR ISI
 

Kata Pengantar………………………………………………………..1
Daftar Isi………………………………………………………………2
BAB I Pendahuluan…………………………………………………..3
A. Latar Belakang…………………………………………………….3
B. Tujuan……………………………………………………………...3
C. Metode Penulisan………………………………………………….3
BAB II Isi……………………………………………………………..4
A. Sekilas Tentang Banyumas………………………………………..4
B. Apa Itu Kentongan ?.........................................................................4
C. Perkembangan Kesenian Kentongan………………………………8
D. Keunikan dan Keunggulan Kentongan…………………………….9
BAB III Penutup…………………………………………………….10
A. Kesimpulan……………………………………………………….10
Daftar Pustaka……………………………………………………….11



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

          Indonesia adalah negara yang memiliki beraneka jenis suku, adat dan budaya. Dan di setiap daerah pastinya memiliki seni budayanya sendiri. Mereka memiliki simbol tersendiri yang dapat membedakan daerah mereka dengan daerah lain. Bisa dibilang setiap daerah memiliki simbol daerahnya sendiri, baik di bidang seni, budaya, dan lain-lain. Adapun di daerah tempat kami berkuliah kini, yakni Kabupaten Banyumas, atau kota Purwokerto, memiliki simbol seni musik yang sering disebut “KENTONGAN”. Kita pasti tahu apa arti dari simbol budaya.

          Simbol budaya adalah suatu hal atau barang yang menjadi ciri khas atau identik setiap masing-masing budaya. Jika dilihat sekilas, mungkin kesenian ini terlihat sama seperti kesenian angklung dari jawa barat, karena kesenian ini sama-sama terbuat dari bambu. Maka dari itu kami menyusun makalah ini agar kita dapat lebih mengenal apa itu kesenian kenthongan dari Banyumas. Dengan harapan kita semua dapat mengenal baik  budaya kita sendiri, lalu dapat menjaganya agar kekayaan budaya kita tidak di rebut oleh bangsa lain.

B. Tujuan

          Maksud atau tujuan penyusunan makalah ini adalah memberikan gambaran tentang salah satu kekayaan seni dan budaya yang berasal dari Banyumas yaitu alat musik kentongan yang juga biasa disebut tek-tek Banyumasan kepada  pembaca yang memiliki ketertarikan kepada kebudayaan Banyumas dan memperkenalkannya secara singkat . Dengan harapan, kita sebagai genenrasi muda Indonesia lebih mengenal budaya kita sendiri, lalu tumbuh rasa sayang dan cinta untuk senantiasa menjaga kentongan sebagai harta seni yang berharga di  Negara Indonesia.

C. Metode Penulisan

          Penulis mempergunakan metode observasi dan searching. Cara-cara yang digunakan pada penelitian ini adalah : –Melakukan observasi terhadap kesenian Kentonngan yang ada di banyumas. –Mengamati musik Kenthongan yang saat ini juga sebagai media rekreasi - Browsing Dalam metode ini penulis membaca buku-buku referensi di situs internet yang  berkaitan dengan penulisan makalah ini.


BAB II
Isi

 

A. Sekilas Tentang Banyumas

 

          Banyumas adalah salah satu kabupaten di provinsi jawa tengah. Ibukotanya adalah Purwokerto. Kabupaten yang berada di selatan pulau jawa ini, memiliki luas 1.327,60 km atau setara dengan 132.759,56 ha. Wilayah ini terdiri antara daratan dan pegunungan dengan struktur daratan terdiri dari sebagian lembah Sungai Serayu untuk tanah pertanian, sebagian dataran tinggi untuk  pemukiman dan pekarangan, dan sebagian pegunungan untuk perkebunan dan hutan tropis terletak di lereng Gunung Slamet sebelah selatan. Bumi dan kekayaan Kabupaten Banyumas masih tergolong potensial karena terdapat Gunung Slamet dengan ketinggian puncak dari permukaan air laut sekitar 3.400M dan masih aktif. Keadaan cuaca dan iklim di Kabupaten Banyumas memiliki iklim tropis basah. Karena terletak di antara lereng pegunungan jauh dari pesisir pantai maka  pengaruh angin laut tidak begitu tampak. Namun dengan adanya dataran rendah yang seimbang dengan pantai selatan angin hampir nampak bersimpangan antara  pegunungan dengan lembah dengan tekanan rata-rata antara 1.001 mbs, dengan suhu udara berkisar antara 21,4° C - 30,9° C.

 

B. Apa itu Kentongan?

          Musik kentongan merupakan music khas masyarakat banyumas, Jawa Tengah. Kesenian yang mulai ramai pada tahun 1990 hingaa 2000-an ini dimainkan oleh 15-20 orang, dengan dipimpin seseorang atau dua orang mayoret. Sejarah budaya kentongan ini sebenarnya dimulai dari legenda Cheng Ho dari Cina, yang mengadakan perjalanan dengan misi keagamaan. Dalam perjalanan tersebut, Cheng Ho menemukan kentongan ini sebagai alat komunikasi ritual keagamaan.
          Penemuan kentongan tersebut dibawa ke Cina, Korea, dan Jepang. Kentongan ini sudah ditemukan sejak awal masehi. Dan setiap daerah tentunya memiliki sejarah  penemuan yang berbeda dengan nilai sejarah yang tinggi. Di Nusa tenggara Barat, kentongan ditemukan ketika Raja anak Agung Gede Ngurah yang berkuasa sekitar abad XIX, mereka menggunakannya untuk mengumpulkan masa. Di Yogyakarta ketika masa kerjaan Majapahit, kentongan Kyai Gorobangsa sering digunakan untuk mengumpulkan warga. Di Pengasih, kentongan ditemukan sebagai alat untuk menguji kejujuran calon pemimpin daerah. Sebenarnya kentongan tidak  jauh berbeda dengan calung, karena sama-sama dibuat dari bahan dasar bambu. Kentongan juga sering disebut dengan "tek-tek". Pada saat itu daerah yang sedang tenar-tenarnya memajukan kesenian tek-tek yaitu Banyumas dan Purbalingga. Kegiatan kentongan ini awalnya hanya untuk kesenangan orang meronda,  jumlahnya hanya 4-5 orang yang menggunakan kentongan untuk keliling desa.





            Alat musik yang digunakan disamping kentongan itu sendiri antara lain, angklung dan calung, untuk rhytme, suling, bass, untuk perkusi biasanya menggunakan kompang atau terbang di kombinasi dengan ketipung, simbal, dan drum mini. Dalam memainkan kentongan, dibutuhkan pemain yang cukup banyak untuk menghasilkan irama music yang ramai, karena satu pemain memukul satu irama kenthongan yang sama sepanjang lagu, sehingga tiap-tiap kenthongan memiliki variasi memukul yang berbeda-beda untuk membuat music kenthongan lebih menarik biasanya pada music kenthongan di sertai tarian khas Banyumasan. Music khentongan paling cocok untuk mengiringi lagu dengan irama yang cepat seperti dangdut dan sebagainya, namun tidak menutup kemungkinan music kentongan digunakan untuk mengiringi lagu dengan irama yang lambat atau slow. Kesenian khentongan biasa di tampikan untuk menyambut pengunjung dan meramaikan tempat wisata, disamping itu kesenian khentongan juga dimaksudkan untuk menjaga dan melestarikan budaya local yang mulai hilang oleh budaya modern. Menurut dinas pariwisata dan kebudayaan kabupaten banyumas pada tahun 2004 perkumpulan khentongan di daerah Banyumas berjumlah 368 group namun saat ini ditahun 2016 jumlahnya bertambah seiring dengan adanya kurikulum 2013 yang mendorong kebudayaan seni tersebut belum lagi grup kentongan yang dijadikan sebagai media pencaharaian masyarakat sebagai sarana hiburan dan rekreasi . Berikut saya seratakan foto-foto kesenian ini.


Salah satu foto kentongan sebagai media hiburan dan matapencaharian


Alat kentongan :

Salah satu foto pada acara extravaganza Banyumas 2016




*salah satu foto pengrajin asal
Desa Purwosari, Baturaden, Banyumas. Pak Imang.

 

·    Pengrajin asal Purbalingga bapak NUR AGUSTUS S.Pd selaku guru pengampu mata pelajaran Seni Budaya di SMA N 1 Kejobong, Purbalingga. Dalam pembuatannya menggunakan bambu Wulung. Yang sebelumnya di pesan secara khusus dan diangin-anginkan selama dua minggu agar bambu kering. Untuk mengetes resonansi, bapak Nur Agustus menggunakan alat musik organ.




C. Perkembangan Kesenian Kentongan

          Kesenian khas Banyumasan yang sedang marak sekarang ini adalah seni kenthongan. Bentuk kesenian karnaval atau drumband tradisional ini memang selalu menarik untuk ditonton. Pertunjukannya yang bisa sambil berjalan/devile dan display/bermain dalam seni konfigurasi, menjadi ciri khusus pertunjukan kesenian kenthongan. Kesenian ini mulai muncul tahun 1997 dari kawasan Ajibarang, Banyumas, tepatnya dari grumbul Tambakan, Desa Ajibarang Kulon, Banyumas. Awalnya disitu muncul grup seni Thek-Thek Pring/Bambu. Karena musik bambu ini amat lentur untuk mengiringi lagu-lagu jenis apapun, tak pelak kesenian ini amat cepat berkembang. Bahkan tahun 2004 telah menjadi kesenian yang benar-benar marak dan tumbuh dimana-mana. Hampir setiap RT se Kabupaten Banyumas memiliki grup thek-thek atau kenthongan, tak hanya itu kesenian inipun berkembang hingga ke wilayah eks Karesidenan Banyumas yaitu Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara. Bahkan saking maraknya kesenian ini tumbuh, tahun 2004 pula seniman Edi Romadhon mengumpulkan 25 grup kenthongan untuk bermain bersama dalam Orkestra Kenthongan, dengan jumlah pemain 1050 orang. Seribu orang lebih ini selama 3 bulan berlatih bersama menggarap lagu-lagu populer Banyumasan seperti Megot, Baturraden dan lagu pop/dangdut nasional seperti Kopi Lambada, Putri Panggung, dengan format gerak konfiguratif yang menarik, dan instrumen pengiring yang rancak. Hasilnya, rekor MURI pun terpecahkan, sebagai Orkestra Musik Kenthongan dengan pemain terbanyak se dunia. Upaya pelestarian dan pengembangan kesenian khas Banyumasan memang wajib dilakukan, terutama oleh seniman tradisi mereka sendiri. Tokoh seniman Genjring Banyumasan, Kus Bendol mengaku salut atas pola pengembangan yang dilakukan Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB). Selain berbagai kesenian tradisional yang sudah berkembang tersebut dihidupkan dengan berbagai cara, misalnya festival, juga ada pengembangan kreatif yang patut menjadi contoh bagi daerah lain. Contohnya sekarang DKKB sedang mengembangkan kolaborasi antara seni lengger calung dengan kenthongan dan genjring. Nama jenis kesenian baru ciptaan DKKB ini adalah Cakenjring yang merupakan akronim dari Calung-Kenthong dan Genjring. Ternyata kolaborasi ini amat menarik, karena nuansa agamis pun bisa disajikan dalam format rancak gembira tak mendayu-dayu. Lewat aranger Edi Romadhon dan Sungging Suharto, Cakenjring bakal pentas di Malaysia bulan November besok. Ini sungguh menarik” kata Kus Bendol. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Banyumas, Darkam Anom Sugito mengakui, seiring berjalannya waktu, sejumlah kesenian khas Banyumas ada yang tumbuh dan tenggelam. Hal itu lantaran gejolak yang terjadi dalam tubuh cabang seni. Antara lain tenggelam saat sudah tidak ada lagi generasi muda yang mau meneruskan, atau semakin bertumbuh jika seni menjadi populer serta banyak yang memperlajarinya.

 

D. Keunikan dan Keunggulan Kentongan

 

          Kesenian music tradisional Khentongan yang semula berfungsi sebagai  penggugah sahur di bulan ramadhan, dan sebagai alat komunikasi atau  penyambung informasi kini berkembang dan menjadi sebuah kesenian yang dibanggakan oleh masyarakat Banyumas. Khentongan jika diamati sepintas seolah-olah tidak ada artinya. Ia merupakan kayu yang di lubangi hamper sama dengan panjang dan besarnya kentongan. Kunci untuk membedakan dilihat dari kode suara dan penabuhnya. Letak Banyumas yang berada di perbatasan antara budaya jawa dan sunda, mempunyai warna music tersendiri. Pengaruh sunda terlihat dari cara memainkan instrument perbendaharaan teknik cara memukul kendang, penyajian suara  penyanyi dan penggunaan instrumen seerti angklung. Semua music banyumasan memakai tangga nada slendro (lima nada). Susunan gubahan vocal sering menggunakan nada minor yang sama dengan pelog (system 7 nada), namun dinyatakan dengan instrument gamelan bernada slendro. Dengan penjelasan diatas, kami memilih music khentongan dikarenakan di daerah  banyumas terdapat sebuah kesenian music yang sangat langka dan unik. Music tradisional khentongan ini, semua alatnya terbuat dari bamboo yang di buat sedemikian rupa hingga bias dimainkan yang nadanya di sesuaikan seperti pada alat music elektrik (keyboard).



BAB III
PENUTUP

 

          Demikian makalah tentang khentongan yang dapat kami sampaikan, mohon maaf apabila terdapat kesalahan-kesalahan dalam isi atau ejaan penulisan. semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

A. Kesimpulan

          Dari awal, kita semua mengerti bahwa Indonesia adalah Negara yang kaya akan suku, adat, seni budaya. Masing-masing daerah memiliki simbol atau cirri khas daerah mereka masing-masing. Termasuk Banyumas, Jawa Tengah, yang memiliki kesenian khentongan. Diharapkan dengan lebih mengenal kesenian khentongan ini, kita sebagai generasi muda terutama masyarakat local Banyumas, dapat lebih mencintai dan melestarikan kesenian Khentongan.


 

Daftar Pustaka

 

·    MGMP Guru Seni budaya, 2010, Muatan Lokal Babad Banyumas untuk SMP.

·    Herusatoto Budiono, 2008, Banyumas. Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak, Yogyakarta : LKiS.

·    https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Banyumas


Senin, 03 Oktober 2022

CONTOH TUGAS AKHIR IBM (INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR) VAMBELAJAR


Nama : Vernanda Abimantrana
NIM : 2501415028
Mata Kuliah : Interaksi Belajar Mengajar
Rombel : 250340003 / Rabu Jam 09:00-10:40 / B2-213B
Tugas Akhir Membuat Artikiel Pembelajaran

Penerapan Keterampilan Memberi Penguatan Dalam Pembelajaran Musik Ansambel di Sekolah

     Kata ansambel berasal dari bahasa prancis. Ansambel berarti suatu rombongan musik. Sedangkan pengertian ansambel menurut kamus musik, ansambel adalah kelompok kegiatan musik dengan jenis kegiatan seperti yang tercantum dalam sebutannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, musik ansambel adalah bermain musik secara bersama-sama dengan menggunakan beberapa alat musik tertentu serta memainkan lagu-lagu dengan aransemen sederhana. Dalam kegiatan belajar sering kita jumpai pembelajaran music ansambel khususnya mata pelajaran Seni Musik atau Seni Budaya di sekolah. Dalam pembelajaran Musik Ansambel disekolah sering kita jumpai beberapa permasalahan yaitu diantaranya : (1) kurangnya keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, (2) peserta didik kurang memahami secara lebih nyata sesuai dengan faktanya tentang materi yang disampaikan oleh guru, (3) guru kurang maksimal dalam memberikan fungsi masing-masing instrumen yang digunakan oleh peserta didik dalam pembelajaran musik ansambel. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan tujuan penulisan artikel ini yaitu : (1) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan pemberian penguatan dalam pembelajaran music ansambel disekolah. (2) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat Pembelajaran Musik Ansambel disekolah.

     Tingkat partisipasi aktif peserta didik dalam proses belajar merupakan salah satu indikator proses belajar yang berkualitas. Rasa keterlibatan yang dilandasi oleh motivasi dan minat yang tinggi dari pihak peserta didik dalam mengikuti proses belajar di kelas merupakan indikator dari proses yang berkualitas. Soedijarto (1991: 161) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mmempengaruhi langsung proses belajar adalah guru dan pelajar, namun yang paling berpengaruh terhadap mutu hasil belajar adalah latar belakang kognitif pelajar disusul dengan sistem evaluasi dan kualitas proses belajar. Sedang yang mempengaruhi langsung kepada guru adalah materi dan sistem penyajian bahan, sistem administrasi, dan sistem evaluasi. Dengan memberikan penguatan dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermanfaat bagi pendidik dan siswa. Adapun beberapa metode yang digunakan dalam pemberian penguatan yaitu :

(1.)  
Penguatan verbal
     Komentar guru berupa kata – kata pujian, dukungan, dan pengakuan dapat digunakan untuk penguatan tingkah laku dan kinerja siswa. Komentar demikian merupakan balikan yang diberikan guru atas kinerja maupun perilaku siswa. Contoh : Bagus!! permainan musik ansambel kalian sudah rapid an enak didengarkan.

(2.) Penguatan berupa mimik muka dan gerakan badan (gestural)
     Penguatan berupa gerakan badan dan mimic muka antara lain seperti: senyuman, anggukan kepal, acungan ibu jari, tepuk tangan, dan sebagainya, sering kali digunakan bersamaan dengan penguatan verbal. Sebagai contoh, ketika guru memberi penguatan verbal, “ pekerjaanmu baik sekali,” pada saat itu guru menganggukkan kepalanya.

(3.) Penguatan dengan cara mendekati anak
     Siswa atau sekelompok siswa yang didekati guru pada saat berlatih music ansambel dapat terkesan diperhatikan. Keadaan ini dapat menghangatkan suasana belajar anakyang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi. Kesan akrab juga dapat timbul dengan cara ini, akibatnya anak tidak merasa dibebani tugas. Beberapa perilaku yang dapat dilakukan guru dalam memberikan penguatan ini antara lain adalah berdiri disamping siswa atau kelompok siswa, berjalan disisi siswa, dan sebagainya.

(4.) Penguatan dengan sentuhan
     Teknik ini penggunaanya perlu mempertimbangkan latar belakang anak, umur, jenis kelamin, serta latar belakang kebudayaan setempat. Dalam memberikan pengutan ini, beberapa perilaku yang dapat dilakukan guru antara lain: menepuk pundak atau bahu siswa, menjabat tangan siswa, mengelus rambut siswa, atau mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan.

(5.) Pengutan dengan kegiatan yang menyenangkan
     Motivasi belajar anak dipengaruhi pula oleh apakah oleh kegiatan belajar yang dilaksanakan tersebut menyenangkan dirinya atau tidak. Bentuk kegitan belajar yang disenangi anak dapat mempertinggi intensitas belajarnya. 
     Untuk menguatkan gairah belajar, guru dapat memilih kegiatan – kegiatan belajar yang disukai anak. Karena tiap – tiap anak memiliki kesukaran masing – masing, guru perlu menyediakan berbagai alternative pilihan yang sesuai dengan kesuksesan masing – masing anak. Dengan memberikan alternative kegiatan belajar yang sesuai dengan kesukaan anak tersebut , maka hal itu bisa juga menjadi bentuk penguatan bagi anak.
     Dapat juga penguatan ini diberikan sebagai akibat dari prestasi baik yang ditunjukan anak. Misalnya, anak yang berprestasi dalam hasil belajarnya ditunjuk sebagai pimpinan kelompok belajar.

(6.) Penguatan berupa symbol atau benda
     Jenis symbol atau benda yang diberikan diselaraskan dengan perkembangan anak. Untuk anak tingkat sekolah dasar, berbeda dengan anak usia sekolah lanjutan. Anak SMA yang berprestasi diberi penghargaan berupa pensil tentunya kurang relevan. Penguatan berupa symbol atau benda ini dapat berupa piagam penghargaan, benda – benda berupa alat – alat tulis dan buku dan dapat pula berupa komentar tertulis pada buku anak. 
Perlu diperhatikan dalam hal penggunaan penguatan yang berupa benda: hendaknya tujuan belajar anak tidak mengarah pada benda tersebut. Oleh karena itu, perlu dibatasi frekuensi penggunaanya.

     Kesimpulannya Belajar mengajar merupakan proses komunikasi, komunikasi yang berhasil dan lancar adalah apabila penerima pesan mampu memahami isi pesan, namun demikian kadangkala pesan yang disampaikan tidak biasa dipahami dengan baik atau bahkan dipahami berbeda oleh setiap peserta didik sebagai penerima pesan belum lagi beberapa peserta didik yang bersifat pasif dalam kegiatan pembelajaran . Untuk menyiasati kelemahan tersebut maka dibutuhkan metode sebagai cara untuk mengefektifkan suasana pembelajaran. Oleh sebab itu, seorang guru harus mampu Memberikan metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai salah satunya seperti dalam metode pemberian penguatan pada siswa. Pemilihan penguatan hendaknya didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai dan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya serta melihat kondisi dan lingkungan siswa.

Daftar Pustaka : 

Azis, A. (2014). Kompetensi Guru Dalam Penggunaan Media Dengan Mutu Pendidikan. Jurnal Pelopor Pendidikan.

Saragih, A. H. (2008). Kompetensi Minimal Seorang Guru Dalam Mengajar. Jurnal Tabularasa.

Joseph, Wagiman. 2009. Akustik Hand Out. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni UNNES

Aesijah, Siti. 2010. Hand-Out Kurikulum dan Pengembangan Materi. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.


NOTICE :
Jangan lupa berkomentar dibagian kolom komentar yaaa.. :)

Sabtu, 24 April 2021

CONTOH SOAL PAT 2 SENI BUDAYA KELAS VII



1. Dibawah ini yang termasuk ke dalam unsur-unsur pengertian Musik adalah….
         a. Akapela c. Harmoni
         b. Ornamen d. Diafragma

2. Bernyanyi banyak suara dengan teknik kanon adalah ….
         a. Bernyanyi dengan teknik susul-menyusul
         b. Bernyanyi dengan diiringi instrument
         c. Bernyanyi tanpa iringan instrument
         d. Bernyanyi dengan paduan suara

3. Susunan tiga nada atau lebih secara vertical yang jika dinyanyikan secara serentak akan menghasilkan nada yang harmonis disebut ….
         a. Akor c. Tempo
         b. Interfal d. Dinamik

4. Nasyid berasal dari kata ansyadayunsyidu yang artinya ….
         a. Bersholawat c. Bergumam
         b. Berdzikir d. Bersenandung

5. Yang termasuk contoh lagu bentuk Kanon kecuali …
         a. Bapak Yakob c. Apuse
         b. Ampar-ampar pisang d. Indonesia Raya

6. Musik Nasyid berasal dari…….
         a. Spanyol c. Arab
         b. Afrika d. Kirgistan

7. Bernyanyi tanpa iringan alat musik disebut …
         a. Akapela c. Koor
         b. Unisono d. Solo

8. Suara pria dengan wilayah nada Tinggi disebut ....
         a. Bariton c. Bass
         b. Tenor d. Alto

9. Suara wanita dengan wilayah nada Rendah disebut ....
         a. Bariton c. Tenor
         b. Bass d. Alto

10. Berapa jumlah birama partitur notasi balok dibawah ini?
         a. 44 c. 11
         b. 18 d. 6

11. Pada partitur dibawah ini dalam penulisan notasi balok menggunakan clef/kunci …. 
         a. C c. G 
         b. F d. Inggris

12. Jenis alat musik yang bisa digunakan untuk melodi pokok suatu lagu atau untuk mengiri lagu adalah jenis alat musik ….
         a. Ritmis c. Harmonis
         b. Melodis d. Tiup Logam

13. Salah satu contoh alat musik ritmis adalah …
         a. Piano c. Gitar
         b. Saron d. Tamborin


14. Salah satu contoh alat musik harmonis adalah...
         a. Tifa c. Recorder
         b. Pianika d. Gitar

15. Bentuk penyajian musik yang dilakukan bersama-sama menggunakan satu jenis alat musik disebut….
         a. Ansambel Campuran c. Orkestra
         b. Band d. Ansambel Sejenis

16. Bentuk penyajian musik yang dilakukan bersama-sama menggunakan beberapa jenis alat musik disebut..
         a. Ansambel Campuran c. Orkestra
         b. Band d. Ansambel Sejenis

17. Alat musik harmonis menghasilkan nada dan dapat dimainkan sebagai penggiring dalam paduan nada atau yang sering disebut dengan …
         a. Dinamik c. Tempo
         b. Interval d. Akor

18. Dari gambar dibawah ini merupakan contoh pertunjukan musik ...
         a. Ansambel Campuran c. Paduan Suara
         b. Orkestra          d. Ansambel Sejenis

19. Tergolong  jenis alat musik apakah gambar dibawah ini?
         a. Alat Musik Ritmis c. Alat Musik Harmonis
         b. Alat Musik Melodis d. Alat Musik Enharmonis

20. Pada gamabar dibawah ini terbuat dari apakah alat musik tersebut?
         a. Plastik c. Kayu Jati
         b. Logam d. Bambu

21. Pada penjarian pianika yang disebut sebagai jari 4 pada permainan alat musik pianika adalah…
         a. Ibu Jari c. Jari Manis
         b. Telunjuk d. Kelingking

22. Dibawah ini yang merupakan motif ragam hias. Kecuali ...
         a. Flora c. Geometris
         b. Fauna d. Archipelago

23. Gambar dibawah ini merupakan motif ragam hias?
         a. Flora c. Geometri
         b. Fauna d. Polygonal

24. Gambar dibawah ini merupakan motif ragam hias?
         a. Geometris c. Figuratif
         b. Fauna d. Polygonal

25. Gambar dibawah ini meruakan motif ragam hias?
         a. Flora c. Geometris
         b. Fauna d. Figuratif

26. Gambar dibawah ini meruakan motif ragam hias?
         a. Flora  c. Figuratif
         b. Fauna d. Polygonal

27. Gambar dibawah ini merupakan motif ragam hias?
         a. Polygonal c. Flora
         b. Geometris d. Fauna

28. Penerapan ragam hias pada bahan tekstil dilakukan dengan teknik yang berbeda – beda. Dibawah ini manakah yang merupakan teknik dalam ragam hias berbahan tekstil ...
         a. Tempa c. Butsir
         b. Ukir d. Songket

29. Kota Jepara di Jawa Tengah terkenal dengan hasil karya seni terapan daerah yaitu …..
         a. Batik c. Patung
         b. Keramik d. Ukiran kayu

30. Yang disebut sebagai Kota batik di indonesia adalah ...
         a. New Asgard     c. Pekalongan
         b. Wakanda          d. Yogyakarta

31. Dalam pembuatan karya seni tekstil bahan pewarna yang digunakan ada yang berasal dari alam dan pewarna buatan. Pewarna dari alam biasanya berupa ...
         a. Tinta Warna c. Lilin/malam
         b. Nippon Paint d. Akar-akaran


32. Gambar dibawah ini merupakan alat yang digunakan untuk …..
         a. Mamahat c. Membatik
         b. Membordir d. Mengukir

33. Kain batik termasuk hasil atau karya seni rupa terapan, sebab ….
         a. Kain batik memiliki nilai keindahan
         b. Kain batik harganya mahal
         c. Kain batik bersifat unik
         d. Selain indah, kain batik memiliki ragamkegunaan

34. Gambar berikut merupakan benda dengan bentuk .....
         a. Kotak c. Bebas
         b. Kubistis d. Silindris

35. Gambar berikut merupakan benda dengan bentuk ...
            a. Kotak c. Silindris
            b. Kubistis d. Bebas

36. Pengertian tekstur suatu benda adalah ....
          a. Keras lembutnya suatu benda
          b. Keras lembutnya permukaan air
          c. Panjang pendeknya suatu benda
          d. Panjang pendeknya lukisan

37. Karya seni rupa yang memiliki ukuran panjang, lebar dan tinggi merupakanhasil karya seni rupa ...
          a. Seni Murni   c. Tiga Dimensi
          b. Dua Dimensi     d. Empat Dimensi

38. Teknik dalam menggambar bentuk dengan cara menentukan gelap terang objek dengan cara menorehkan garis-garis disebut…..
         a. Blok c. Melukis
         b. Dusel d. Arsir

39. Cor merupakan kegiatan membuat benda tiga dimensi yang menggunakan bahan dari….
         a. Tanah Liat c. Semen
         b. Tembaga d. Timah

40. Agar pameran berlangsung lancar,meriah dan banyak pengunjungnya, maka perlu di adakan…..
         a. Kebersihan tempat
         b. Publikasi/Pemberitaan
         c. Rapat pengurus
         d. Pengumpulan Dana

Senin, 22 Juni 2015

Contoh Tugas Laporan Penelitian Bahasa Indonesia 2015 (tahun pembuatan 2014)



LAPORAN PENELITIAN
PENERAPAN SISTIM KREDIT SEMESTER
TERHADAP EFEKTIFITAS BELAJAR SISWA
SMA NEGERI 3 PURWOKERTO


























Oleh:
Gagas Restu S
Vernanda Abimantrana

SMA NEGERI 3 PURWOKERTO
TAHUN AJARAN 2013/2014


KATA PENGANTAR
   Puji syukur kehadirat Allah SWT. Dengan rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan karya tulis ini yang berjudul “ Laporan Penelitian Penerapan Sistem Kredit Semester Terhadap Motivasi Belajar SMA Negeri 3 Purwokerto” dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.
    Karya tulis ini disusun untuk menyelesaikan tugas bahasa Indonesia tahun ajaran 2013/2014.
    Ucapan terimakasih kami ucapkan pada yang terhormat:
1.      Ibu Endah Nurul Hidayati S pd selaku guru pembimbing.
2.      Adik-adik kelas XIPA dan XIPS SMA Negeri 3 Purwokerto.
3.      Teman-teman kelas XI IPA 4 yang telah membantu kami dalam menyelesaikan karya tulis ini.
4.      Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan karya tulis ini.
    Semoga Karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami menyadari dalam pembuatan karya tulis ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharap kritik dan saran semua pihak.

            Purwokerto, 18 Febuari 2014


                              Peneliti

 









Daftar Isi
Judul
Daftar isi
Kata Pengantar

BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
1.5 Metode Penelitian
BAB II : PEMBAHASAN
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
C. Lampiran











KATA PENGANTAR
   Puji syukur kehadirat Allah SWT. Dengan rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan karya tulis ini yang berjudul “ Laporan Penelitian Penerapan Sistem Kredit Semester Terhadap Motivasi Belajar SMA Negeri 3 Purwokerto” dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.
    Karya tulis ini disusun untuk menyelesaikan tugas bahasa Indonesia tahun ajaran 2013/2014.
    Ucapan terimakasih kami ucapkan pada yang terhormat:
1.      Ibu Endah Nurul Hidayati S pd selaku guru pembimbing.
2.      Adik-adik kelas XIPA dan XIPS SMA Negeri 3 Purwokerto.
3.      Teman-teman kelas XI IPA 4 yang telah membantu kami dalam menyelesaikan karya tulis ini.
4.      Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan karya tulis ini.
    Semoga Karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami menyadari dalam pembuatan karya tulis ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharap kritik dan saran semua pihak.



                                                                                                                      Purwokerto, 18 Febuari 2014



                                                                                                                      Peneliti














BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

     Secara umum, masyarakat mengetahui tentang program SKS hanya diterapkan dan dijalankan di Perguruan Tinggi. Masyarakat masih belum banyak yang mengetahui bahwa program SKS diterapkan di SMA Negeri 1 Probolinggo. Program SKS ini adalah program yang memfasilitasi siswa untuk belajar lebih cepat bagi yang memiliki kemauan dan kemampuan. Sehingga waktu belajar 3 tahun bisa ditempuh 2,5 tahun bahkan 2 tahun.
     Namun, program SKS yang baru diterapkan ini juga memiliki kekurangan di bagian tertentu. Program SKS berbeda dengan program akselerasi yang lebih banyak dikenal dan diterapkan. Program SKS dibentuk melalui paket-paket materi belajar. Masalahnya, program SKS baru diterapkan pada saat siswa semester 2, berbeda dengan program akselerasi yang diterapkan mulai semester 1. Sehingga, siswa dituntut untuk belajar ekstra keras mulai semester 2 untuk menghabiskan materi 3 tahun di SMA.
Solusi untuk meminimalkan kekurangan program SKS ini adalah dengan selalu melakukan perbaikan di semua bidang. Dukungan dan partisipasi dari siswa-siswi maupun dari wali murid sangat besar pengaruhnya bagi kesuksesan penerapan program SKS ini. Hubungan yang tepat antara pihak sekolah, siswa dan wali murid akan membuat program SKS ini berhasil  dan memberikan manfaat yang maksimal.
     Berdasarkan penjelasan di atas, maka disusunlah karya ilmiah yang berjudul “Penerapan Sistim Kredit Semester Terhadap Efektifitas Belajar Siswa SMA Negeri 3 Purwokerto” dengan harapan bahwa karya ilmiah ini dapat memberikan sedikit informasi dan gambaran tentang seluk-beluk program SKS ini bagi siswa dan wali murid. Selain itu, diharapkan bisa memberikan gambaran tentang respon, keinginan, dan usulan, dari siswa bagi pihak sekolah mengenai penerapan program SKS ini di SMA Negeri 3 Purwokerto guna terciptanya efekfitas program SKS yang maksimal.




1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang, masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.2.1   Apakah program SKS itu?
1.2.2   Bagaimana pendapat siswa SMA Negeri 1 Probolinggo terhadap program SKS tersebut?
1.2.3   Bagaimana tingkat efektivitas program SKS tersebut di SMA Negeri 3 Purwokerto?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian sebagai berikut:
1.3.1   Mendeskripsikan tentang program SKS.
1.3.2   Mendeskripsikan pendapat siswa SMA Negeri 1 Peobolinggo terhadap program SKS.
1.3.3   Mendeskripsikan tingkat efektivitas program SKS tersebut di SMA Negeri 3 Purwokerto.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1.4.1   Bagi Penulis
Penelitian ini untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia seri 3 mengenai Penulisan Karya Ilmiah remaja dan untuk menjadi bekal penulisan skripsi di Perguruan Tinggi.
1.4.2   Bagi Siswa
Mengetahui program SKS lebih detail dan sebagai media untuk menyalurkan aspirasi kepada pihak sekolah.
1.4.3   Bagi Sekolah
Mengetahui aspirasi siswa, sebagai gambaran tentang penerapan program SKS dilihat dari sudut pandang siswa.

1.5 METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.5.1   Metode wawancara kepada narasumber.
1.5.2   Metode penelusuran angket mengenai pendapat siswa.
1.5.3   Metode kajian pustaka.
































BAB II

PEMBAHASAN
2.1    Pengertian Program SKS
     Program Sistem Kredit Semester (SKS) merupakan sistem penyelenggaraan program pendidikan yang membebaskan peserta didik untuk menentukan sendiri berapa banyak beban belajar yang akan diikuti pada tiap semester. Program SKS umumnya diterapkan di perguruan tiggi. Namun, mulai tahun 2007 sudah mulai diterapkan di sekolah menengah atas seperti di SMAN 78 Jakarta. SMA Negeri 3 Purwokerto juga menerapkan program ini mulai tahun 2013.
Pada penerapan program SKS ini, setiap siswa wajib mengambil minimal 20 SKS. Apabila kemampuan siswa dalam belajar cukup tinggi, maka berhak mengambil tambahan 4 SKS menjadi 24 SKS atau 28 SKS untuk kelas reguler. Bahkan siswa dapat mengambil 32 SKS untuk siswa cerdas dan istimewa setara dengan program akselerasi.
Program SKS berbeda dengan program akselerasi. Program SKS dilihat berdasarkan IP (Indeks Prestasi) berjalan. Apabila IP siswa bagus dan maksimal, maka siswa tersebut dapat menuntaskan semua materi 3 tahun dalam 4 seri dan selesai dalam 4 semester atau 2 tahun. Penjurusan menuju kelas IPA dan IPS pun dilaksanakan pada semester 2 di kelas 10. Sehingga beban belajar dalam setahun masa kelas 10 wajib tuntas hanya dalam waktu 6 bulan.
 Sedangkan program akselerasi menuntut siswa untuk mengemban beban belajar yang seharusnya ditempuh 3 tahun harus diselesaikan 2 tahun. Sehingga materi 1 semester hanya diberikan 1 cawu atau 4 bulan. Materi yang diberikan dalam program akselerasi sama  seperti sistem paket, yaitu sudah diatur dan diterapkan mulai siswa masuk sekolah pada semester 1 pada kelas 10. Program akselerasi hanya bisa diikuti oleh siswa yang memiliki Intelligence Quotient (IQ) minimal 130, sedangkan program SKS bisa diikuti oleh semua siswa asal mempunyai kemauan untuk menyelesaikan masa belajarnya hanya 2 tahun.
     Latar belakang dilaksanakannya program SKS di SMA Negeri yaitu untuk memberikan layanan kepada siswa yang mempunyai kecepatan belajar tinggi, adanya kebijakan kementerian pendidikan bahwa harus memperhatikan potensi dari tiap siswa, sekolah yang sudah berakreditasi A dan berstandar Internasional (RSBI) wajib menerapkan program SKS yang diatur dalam IP 19/2005, serta kesiapan sekolah. Kesiapan sekolah memiliki peran penting dalam pelaksanaan program SKS ini. Apabila siswa memliki potensi, namun sekolah masih belum punya kesiapan, maka program SKS ini tidak dapat berjalan dengan baik.
     Program SKS ini memiliki tujuan melayani minat dan potensi siswa dalam belajar, mengembangkan kemandirian siswa, dan agar pembelajaran lebih fokus, luas, dan mendalam. Semua materi yang diberikan pada siswa yang mengambil SKS 32, 28, dan 24 memiliki bobot yang sama hanya saya berbeda pada waktu penyelesaiannya. Bagi siswa yang mengambil SKS 28 dan 24, maka pada semester 5 hanya terdiri dari 3 bidang studi. Sisanya akan dilaksanakan pendalaman materi untuk persiapan menghadapi Ujian Nasional (UNAS). Sehingga bagi anak yang mengambil SKS 28 dan 24 akan lebih siap.
     Pelaksanaan program SKS ini sudah diatur dalam peraturan pemerintahan. Diantaranya UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 pasal 12 ayat 1F yang berbunyi “Setiap peserta didik dalam satuan pendidikan dalap menyelesaikan pendidikannya sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing yang tidak menyimpang dati batas waktu yang ditetapkan.” Dasar pelaksanaan lain adalah BNSP pada April 2010. Serta PERMENDIKNAS No. 81 A tahun 2013 pada lampiran 4 yang berbunyi “Sekolah akreditasi A dapat menyelenggarakan program SKS.” Sebagai sekolah akreditasi A, SMA Negeri 1 Probolinggo menyelenggarakan program SKS ini.
     Program SKS ini memiliki berbagai manfaat, baik untuk siswa dan sekolah tiu sendiri. Bagi sekolah, program SKS ini dimungkinkan tenaga pendidik atau guru akan bisa memperbanyak jam pelajaran sesuai dengan beban SKS tiap bidang studi, dan juga dapat memfalitasi untuk percepatan dan masa belajar bagi siswa sehingga akan efisien dalam anggaran. Bagi siswa yang mempunyai kemampuan belajar tinggi dapat menghemat waktu, biaya, dan umur. Sehingga dapat lebih fokus pada saat Perguruan Tinggi nanti. Sedangkan bagi siwa yang standar dimungkinkan akan lebih siap dalam menghadapi Ujian Nasional (UNAS) dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) mengingat waktu tambahan jam pelajaran cukup maksimal sehingga persiapannya lebih maksimal dan matang. Bagi siswa yang mempunyai kemampuan tinggi dan standar masing-masing mimiliki keuntungan dari program SKS ini.
Selama melaksanakannya program SKS ini, SMA Negeri 3 Purwokerto telah menghadapi berbagai kendala. Kendala-kendala tersebut adalah dalam pendistribusian mata pelajaran mengingat SMA Negeri 3 Purwokerto baru melaksanakan program SKS ini. Masalah penjadwalan mata pelajaran juga menjadi kendala dilaksanakannya program SKS. Pada semester terakhir, banyak siswa yang pulang hingga sore hari namun jumlah SKS yang diambil hanya sedikit. Hal itu disebabkan karena kesalahan dalam komputerisasi, sehingga ada beberapa jam kosong dalam 1 hari. Serta pemetaan SK/KD memerlukan revisi atau penyempurnaan. Kendala-kendala lain juga disebabkan dari pihak siswa. Dengan adanya moving class sering terjadi siswa tidak masuk kelas sesuai jadwal atau terlambat.
     Berdasarkan kendala-kendala yang disebutkan di atas, SMA Negeri 3 Purwokerto sudah mengantisipasi dengan beberapa solusi. Diantaranya, sekolah sudah merevisi atau menyempurnakan program komputerisasi, dan adanya perbaikan rasionalisasi materi dengan kecukupan jam bagi siswa angkatan ke-2. Sehingga tidak akan ada lagi siswa yang pulang hingga sore tapi jumlah SKS yang diambil sedikit. Selain itu, guru lebih intensif mengawasi siswa tertentu yang sering datang terlambat ke kelas.
     Program SKS ini memiliki keunggulan, yaitu bagi siswa yang memiliki kecepatan tinggi dapat menyelesaikan masa belajarnya hanya 2 tahun dan berjalan secara alami. Sedangkan bagi siswa yang standar, dapat menikmati masa remajanya dengan waktu normal dan input pengetahuan lebih dalam serta kegiatan ekstrakurikuler dapat dilaksanakan dengan baik.
Menurut Bapak Slamet Prasodjo selaku pioneer  penerapan program SKS di SMA Negeri 3 Purwokerto, pada tahap ke-1 memang ada kendala dalam pendistribusian mata pelajaran dan penjadwalan tetapi pada tahun ke-2 dan 3 akan lebih efektif dan efisien sehingga diharapkan output siswa lebih berkualitas.
     Dengan adanya program SKS ini diharapkan dapat menciptakan kualitas output yang semakin baik dan dapat memasuki PTN atau dunia kerja sesuai harapan semua pihak.

2.2  Pendapat Siswa SMA Negeri 3 Purwokerto tentang Program SKS
     Berdasarkan hasil analisis data dari 20 angket yang disebar diperoleh jawaban dari responden yang beraneka ragam. Analisis data yang didapat akan disajikan dalam jawaban responden dari setiap poin yang terdiri dari 9 pertanyaan.

A.  Jawaban responden mengenai pengetahuan tentang program SKS
     Sebanyak 50% responden mengatakan bahwa program SKS adalah program pembelajaran dengan sistem kredit semester yang diterapkan di Perguruan Tinggi. Sebanyak 45% responden yang lain mengatakan bahwa program SKS adalah program pembelajaran sekolah yang memberi fasilitas bagi seluruh siswa untuk menentukan jumlah beban belajar yang diambil pada 1 semester. Banyaknya jumlah beban yang diambil disesuaikan dengan kemampuan siswa itu sendiri, sehingga tidak membebani siswa. Dengan adanya kebebasan memilih jumlah beban setiap semester, maka akan memungkinkn bagi siswa yang memiliki kecepatan belajar lebih cepat bisa mengambil SKS maksimal sehingga bisa menyelesaikan masa sekolah 3 tahun menjadi 2 tahun. Sebaliknya, bagi siswa yang ingin belajar dengan santai maka bisa mengambil SKS sesuai kemampuan dan keinginannya. Hanya 5% responden mengatakan bahwa program SKS adalah program yang menyulitkan guru dan siswanya.



B.  Jawaban responden mengenai pendapat tentang penerapan program SKS
     Sebanyak 65% siswa setuju dengan penerapan program SKS di SMA Negeri 3 Purwokerto, karena menurut mereka penerapan program SKS dapat digunakan sebagai sarana latihan saat mengambil beban belajar di Perguruan Tinggi nanti. Program SKS juga dapat memotivasi kemauan belajar siswa untuk mempertahankan IP yang sudah diraih sehingga siswa tidak bermalas-malasan dalam belajar karena dengan adanya program SKS kegiatan siswa lebih padat sehingga secara tidak langsung membuat siswa untuk belajar rajin. Sebanyak 35% responden kurang setuju dengan penerapan program SKS karena mereka menilai penerapan program SKS seharusnya ada di Perguruan Tinggi, bukan di tingkat SMA. Hal ini dapat mengakibatkan siswa merasa terbebani dalam pembelajaran, sehingga hasil belajar kurang maksimal. Siswa juga menilai bahwa sekolah masih kurang siap dalam melaksanakan program SKS ini.

C.  Jawaban responden mengenai kelebihan program SKS
     Sebanyak 75% responden mengatakan bahwa kelebihan program SKS adalah bagi siswa yang memiliki kecepatan belajar tinggi dapat lulus hanya dalam 2 tahun. Hal ini dapat menghemat biaya sekolah 1 tahun dan menghemat umur. Sebanyak 15% responden mengatakan bahwa kelebihan program SKS bagi siswa yang memiliki kecepatn belajar tinggi dapat lulus 2 tahun dan bagi yang menyelesaikan sekolah selama 2,5 tahun atau 3 tahun akan memiliki waktu yang lebih lama untuk mempersiapkan Ujian Nasional karena bimbingan penuh akan dimulai pada semester 6. 10% responden mengatakan bahwa program SKS akan memungkinkan siswa belajar materi yang belum dipelajari oleh sekolah lain, karena pemetaan materi program SKS berbeda dengan pemetaan materi program reguler.

D.  Jawaban responden mengenai kekurangan program SKS
     Sebanyak 65% responden mengatakan bahwa kekurangan program SKS antara lain adalah program SKS menyebabkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam kelas sangat terburu-buru untuk mengejar target pemahaman materi. Akibatnya materi yang disampaikan kurang mendalam sehingga siswa harus belajar sendiri dan mencari referensi lain. Hal ini tentunya akan menguras tenaga dan pikiran siswa. 20% responden mengatakan bahwa program SKS mengurangi minat dan waktu siswa untuk mengikuti ekstrakurikuler sehingga prestasi sekolah bidang non-akademik bisa turun. 10% responden mengatakan bahwa mental siswa SMA belum siap sepenuhnya untuk mengikuti program SKS sehingga mereka akan merasa terbebani. 5% responden mengatakan bahwa pemetaan materi belajar model program SKS masih belum maksimal.

E.  Jawaban responden mengenai tingkat efektivitas penerapan program SKS
     Sebnyak 55% responden mengatakan bahwa penerapan program SKS di SMA Negeri 3 Purwokerto kurang efektif, karena penyampaian materi sangat terburu-buru sehingga ilmu yang diterima siswa tidak maksimal. Hal ini mengakibatkan nilai siswa menurun. Sebanyak 20% responden mengatakan cukup efektif karena meskipun masih banyak siswa yang keberatan dengan program ini, namun program SKS ini menjadi wadah bagi siswa yang memiliki kecepatan belajar tinggi. 20% responden mengatakan sangat efektif krena di tahun pertama sekolah berhasil meluluskn 18 siswa yang belajar dalam waktu 2 tahun dari program IPA dan IPS. 5% responden tidak megetahui tentang tingkat efektivitas penerapan program SKS di SMA Negeri 1 Probolinggo.

F.   Jawaban responden mengenai kendala yang dihadapi selama mengikuti penerapan program SKS
     Sebanyak 75% responden mengatakan bahwa kendala yang dihadapi adalah sulit membagi waktu antara urusan sekolah dan urusan pribadi, ada banyak ulangan dan tugas yang waktunya selalu bersamaan, sering mengalami pembelajaran singkat padahal materi yang disampaikan sangat banyak, serta tidak ada waktu untuk kegiatan non-akademis. 15% responden memiliki kendala sulit mencari buku referensi karena materi yang dipelajari tidak runtut namun disesuaikan dengan pengelompokan materi. 5% responden mengatakan bahwa kendala dalam penerapan program SKS ini ada kelas yang kosong di tengah sehingga meskipun mengambil SKS sedikit tetap pulang siang. 5% responden tidak memahami program SKS karena kurangnya sosialisasi tentang SKS.

G. Jawaban responden mengenai solusi untuk mengatasi kendala yang dialami dalam penerapan program SKS
     Sebanyak 70% responden mengatur waktu dengan baik di sekolah dan di rumah, mengerjakan tugas saat ada jam pelajaran kosong sehingga di rumah bisa belajar materi yang lain, serta belajar 2 kali untuk mengejar materi yang belum dipahami. Sebanyak 15% responden mencari buku paket dan referensi lain yang lebih luas dalam pembahasan materi. Sebanyak 10% responden mengurangi jumlah SKS yang diambil pada semester berikutnya. Hanya 5% responden mengatakan bahwa pihak sekolah belum menemukan solusi bagi kendala yang dihadapi siswa.

H.  Jawaban responden mengenai saran terhadap penerapan program SKS
     80% responden menyarankan agar program SKS tetap dilakukan dan ditingkatkan di SMA Negeri 1 Probolinggo dengan pengaturan yang lebih baik, dilakukan perbaikan dalam penyebaran jadwal pelajaran, jadwal ulangan, penyebaran materi pelajaran pada program SKS, dan pembagian kelas yang benar antara tiap SKS sehingga siswa yang berbeda jumlah SKS saling menunggu. 10% responden menyarankan untuk jurusan IPA pada pelajaran MIPA (Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika) jangan dijadikan hanya 4 seri saja (1 seri 1 semester). Sebaiknya dijadikan dalam 5 seri supaya siswa lebih memahami materi dan tidak lupa materi ketika akan mendekati Ujian Nasional, kecuali bagi yang memang dalam program 2 tahun. 10% responden menyarankan program SKS di SMA Negeri 1 Probolinggo ditiadakan, karena tidak semua anak mampu menjalaninya.

I.     Jawaban responden mengenai harapan terhadap pererapan program SKS
     Dari 85% responden mengharapkan agar penerapan program SKS di SMA Negeri 1 Probolinggo bisa menjadi lebih baik dan lebih sukses setiap tahunnya sehingga nilai siswa selalu meningkat. Selain itu, program SKS diharapkan dapat lebih efektif sehingga tidak merugikan siswa dalam belajar. Serta diharapkan program SKS ini tidak berhenti di tengah jalan. 10% responden mengharapkan untuk jurusan IPA pada pelajaran MIPA (Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika)  dijadikan dalam 5 seri untuk yang mengambil 24 dan 28 SKS. Sehingga pada semester 6 siswa lebih memahami dan siap menghadapi Ujian Nasional (UNAS). Jadi, untuk yang lulus 3 tahun, nilainya akan bertambah naik. 5% responden mengharapkan agar sekolah bisa lebih siap dalam program SKS sehingga siswa tidak menjadi kelinci percobaan.
     Dari hasil analisis data diatas dapat diketahui tentang pendapat siswa SMA Negeri 1 Probolinggo mengenai penerapan program SKS yaitu bahwa sebagian besar siswa sudah tahu, mengerti, dan setuju dengan penerapan program SKS yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Probolinggo. Menurut mereka kelebihan program SKS adalah bagi siswa yang memiliki kecepatan belajar tinggi dapat lulus hanya dalam 2 tahun. Hal ini dapat menghemat biaya sekolah 1 tahun dan menghemat umur. Sedangkan kekurangan program SKS antara lain adalah program SKS menyebabkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam kelas sangat terburu-buru untuk mengejar target pemahaman materi. Akibatnya materi yang disampaikan kurang mendalam sehingga siswa harus belajar sendiri dan mencari referensi lain. Hal ini tentunya akan menguras tenaga dan pikiran siswa.
     Namun menurut mereka, penerapan program SKS di SMA Negeri Kota Probolinggo kurang efektif, karena penyampaian materi sangat terburu-buru sehingga ilmu yang diterima siswa tidak maksimal. Hal ini mengakibatkan nilai siswa menurun.
     Mereka mengatakan bahwa kendala yang sering dihadapi adalah sulit membagi waktu antara urusan sekolah dan urusan pribadi, ada banyak ulangan dan tugas yang waktunya selalu bersamaan, sering mengalami pembelajaran singkat padahal materi yang disampaikan sangat banyak, serta tidak ada waktu untuk kegiatan non-akademis. Sedangkan solusi yang mereka lakukan untuk mengatasi kendala yang ada antara lain mengatur waktu dengan baik di sekolah dan di rumah.
Mereka menyarankan agar program SKS tetap dilakukan dan ditingkatkan di SMA Negeri 1 Probolinggo dengan pengaturan yang lebih baik, dilakukan perbaikan dalam penyebaran jadwal pelajaran, jadwal ulangan, penyebaran materi pelajaran pada program SKS, dan pembagian kelas yang benar. Mereka berharap agar penerapan program SKS di SMA Negeri 1 Probolinggo bisa menjadi lebih baik dan lebih sukses setiap tahunnya sehingga nilai siswa selalu meningkat. Selain itu, program SKS diharapkan dapat lebih efektif sehingga tidak merugikan siswa dalam belajar. Serta diharapkan program SKS ini tidak berhenti di tengah jalan.

2.3    Tingkat Efektivitas Penerapan Program SKS di SMA Negeri 3 Purwokerto
     Berdasarkan dari kendala yang dihadapi siswa dan sekolah dalam penerapan program SKS serta solusi yang dilakukan baik dari pihak siswa maupun dari pihak sekolah dapat diketahui bahwa penerapan program SKS di SMA Negeri 3 Purwokerto cukup efektif. Sebagai sekolah yang baru melaksanakan program SKS tentu masih banyak kekurangan dan masalah yang dihadapi, baik bagi pihak sekolah maupun pihak siswa.
     Sekolah memiliki kendala seperti penyebaran jadwal pelajaran dan penyebaran materi pelajaran yang kurang sempurna masih terjadi di tahun pertama penerapan program SKS. Hal ini terjadi karena ada kesalahan program komputerisasi. Namun sekolah segera berusaha untuk memperbaiki segala bidang dan berusaha untuk meminimalisir kekurangan yang mungkin ada dalam pelaksanaan program SKS kedepannya.
     Kesungguhan sekolah untuk meminimalisir masalah ini terbukti dengan semakin optimalnya persiapan dan pelaksanaan program SKS untuk tahun berikutnya, yaitu tahun kedua dan ketiga penerapan program SKS. Meskipun begitu tetap dibutuhkan perbaikan di segala bidang untuk meningkatkan efektivitas penerapan program SKS.
     Disisi lain, masalah yang dihadapi siswa memang cukup banyak pada awal penerapan program SKS. Masalah yang dihadapi antara lain jadwal pelajaran yang belum sempurna membuat siswa pulang terlalu sore, sehingga tidak sempat belajar dan mengerjakan tugas di rumah. Namun pada tahun kedua ini siswa sudah mulai beradaptasi dengan penerapan program SKS dan memiliki solusi pribadi untuk mengatasi kendala yang dihadapinya.





BAB III

PENUTUP
3.1    Kesimpulan
     Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
3.1.1  Program Sistem Kredit Semester (SKS) merupakan sistem penyelenggaraan program pendidikan yang membebaskan peserta didik untuk menentukan sendiri berapa banyak beban belajar yang akan diikuti pada tiap semester. Program SKS ini memfasilitasi siswa yang mempunyai kemampuan belajar tinggi dapat menyelesaikan masa belajarnya selama 2 tahun. Sedangkan bagi siswa yang standar dapat dimungkinkan akan lebih siap dalam menghadapi UNAS/PTN mengingat waktu tambahan jam belajar cukup banyak.
3.1.2 Siswa SMA Negeri 3 Purwokerto sudah mengerti dan setuju dengan adanya penerapan program SKS. Siswa juga mendukung dengan adanya program SKS meskipun masih ada kendala selama pembelajaran. Mereka berharap agar penerapan program SKS bisa lebih baik lagi kedepannya dan selalu melakukan perbaikan di segala bidang.
3.1.3 Berdasarkan dari kendala yang dihadapi siswa dan sekolah dalam penerapan program SKS serta solusi yang dilakukan baik dari pihak siswa maupun dari pihak sekolah dapat diketahui bahwa penerapan program SKS di SMA Negeri 3 Purwokerto cukup efektif.

3.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:
3.2.1 Untuk mendapatkan hasil yang lebih valid, sebaiknya menggunakan jumlah responden yang lebih banyak.
3.2.2 Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendetail tentang program SKS, selain melakukan kajian pustaka, juga menanyakan tentang program SKS kepada guru yang lebih mengatahui.