Oleh
:
Vernanda Abimantrana ( 2501415028 )
Pendidikan Seni Musik
Fakultas
Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Semarang
2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta
taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang Kesenian
Kenthongan di Banyumas dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan
juga kami berterima kasih pada Ibu Siti Aesijah dan Bapak Hafid Zuhdan Batiar
selaku Dosen mata kuliah Sejarah Seni UNNES yang telah memberikan tugas ini kepada
saya. .
Saya
sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Kesenian yang terdapat di Banyumas khususnya kesenian
Kenthongan. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa
yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun. .
Semoga
makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi Saya sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda
demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Purwokerto,
1 Juni 2016
Vernanda Abimantrana
DAFTAR
ISI
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Indonesia
adalah negara yang memiliki beraneka jenis suku, adat dan budaya. Dan di setiap
daerah pastinya memiliki seni budayanya sendiri. Mereka memiliki simbol
tersendiri yang dapat membedakan daerah mereka dengan daerah lain. Bisa
dibilang setiap daerah memiliki simbol daerahnya sendiri, baik di bidang seni,
budaya, dan lain-lain. Adapun di daerah tempat kami berkuliah kini, yakni
Kabupaten Banyumas, atau kota Purwokerto, memiliki simbol seni musik yang
sering disebut “KENTONGAN”. Kita pasti tahu apa arti dari simbol budaya.
Simbol
budaya adalah suatu hal atau barang yang menjadi ciri khas atau identik setiap
masing-masing budaya. Jika dilihat sekilas, mungkin kesenian ini terlihat sama
seperti kesenian angklung dari jawa barat, karena kesenian ini sama-sama
terbuat dari bambu. Maka dari itu kami menyusun makalah ini agar kita dapat
lebih mengenal apa itu kesenian kenthongan dari Banyumas. Dengan harapan kita
semua dapat mengenal baik budaya kita
sendiri, lalu dapat menjaganya agar kekayaan budaya kita tidak di rebut oleh
bangsa lain.
B.
Tujuan
Maksud
atau tujuan penyusunan makalah ini adalah memberikan gambaran tentang salah
satu kekayaan seni dan budaya yang berasal dari Banyumas yaitu alat musik
kentongan yang juga biasa disebut tek-tek Banyumasan kepada pembaca yang memiliki ketertarikan kepada
kebudayaan Banyumas dan memperkenalkannya secara singkat . Dengan harapan, kita
sebagai genenrasi muda Indonesia lebih mengenal budaya kita sendiri, lalu
tumbuh rasa sayang dan cinta untuk senantiasa menjaga kentongan sebagai harta
seni yang berharga di Negara Indonesia.
C.
Metode Penulisan
Penulis
mempergunakan metode observasi dan searching. Cara-cara yang digunakan pada
penelitian ini adalah : –Melakukan observasi terhadap kesenian Kentonngan yang
ada di banyumas. –Mengamati musik Kenthongan yang saat ini juga sebagai media
rekreasi - Browsing Dalam metode ini penulis membaca buku-buku referensi di
situs internet yang berkaitan dengan
penulisan makalah ini.
BAB II
Isi
A.
Sekilas Tentang Banyumas
Banyumas
adalah salah satu kabupaten di provinsi jawa tengah. Ibukotanya adalah Purwokerto.
Kabupaten yang berada di selatan pulau jawa ini, memiliki luas 1.327,60 km atau
setara dengan 132.759,56 ha. Wilayah ini terdiri antara daratan dan pegunungan
dengan struktur daratan terdiri dari sebagian lembah Sungai Serayu untuk tanah
pertanian, sebagian dataran tinggi untuk
pemukiman dan pekarangan, dan sebagian pegunungan untuk perkebunan dan
hutan tropis terletak di lereng Gunung Slamet sebelah selatan. Bumi dan
kekayaan Kabupaten Banyumas masih tergolong potensial karena terdapat Gunung
Slamet dengan ketinggian puncak dari permukaan air laut sekitar 3.400M dan
masih aktif. Keadaan cuaca dan iklim di Kabupaten Banyumas memiliki iklim
tropis basah. Karena terletak di antara lereng pegunungan jauh dari pesisir
pantai maka pengaruh angin laut tidak
begitu tampak. Namun dengan adanya dataran rendah yang seimbang dengan pantai
selatan angin hampir nampak bersimpangan antara
pegunungan dengan lembah dengan tekanan rata-rata antara 1.001 mbs,
dengan suhu udara berkisar antara 21,4° C - 30,9° C.
B.
Apa itu Kentongan?
Musik
kentongan merupakan music khas masyarakat banyumas, Jawa Tengah. Kesenian yang
mulai ramai pada tahun 1990 hingaa 2000-an ini dimainkan oleh 15-20 orang,
dengan dipimpin seseorang atau dua orang mayoret. Sejarah budaya kentongan ini
sebenarnya dimulai dari legenda Cheng Ho dari Cina, yang mengadakan perjalanan
dengan misi keagamaan. Dalam perjalanan tersebut, Cheng Ho menemukan kentongan
ini sebagai alat komunikasi ritual keagamaan.
Penemuan
kentongan tersebut dibawa ke Cina, Korea, dan Jepang. Kentongan ini sudah
ditemukan sejak awal masehi. Dan setiap daerah tentunya memiliki sejarah penemuan yang berbeda dengan nilai sejarah
yang tinggi. Di Nusa tenggara Barat, kentongan ditemukan ketika Raja anak Agung
Gede Ngurah yang berkuasa sekitar abad XIX, mereka menggunakannya untuk
mengumpulkan masa. Di Yogyakarta ketika masa kerjaan Majapahit, kentongan Kyai
Gorobangsa sering digunakan untuk mengumpulkan warga. Di Pengasih, kentongan
ditemukan sebagai alat untuk menguji kejujuran calon pemimpin daerah.
Sebenarnya kentongan tidak jauh berbeda
dengan calung, karena sama-sama dibuat dari bahan dasar bambu. Kentongan juga
sering disebut dengan "tek-tek". Pada saat itu daerah yang sedang tenar-tenarnya
memajukan kesenian tek-tek yaitu Banyumas dan Purbalingga. Kegiatan kentongan
ini awalnya hanya untuk kesenangan orang meronda, jumlahnya hanya 4-5 orang yang menggunakan
kentongan untuk keliling desa.
Alat
musik yang digunakan disamping kentongan itu sendiri antara lain, angklung dan
calung, untuk rhytme, suling, bass, untuk perkusi biasanya menggunakan kompang
atau terbang di kombinasi dengan ketipung, simbal, dan drum mini. Dalam
memainkan kentongan, dibutuhkan pemain yang cukup banyak untuk menghasilkan
irama music yang ramai, karena satu pemain memukul satu irama kenthongan yang
sama sepanjang lagu, sehingga tiap-tiap kenthongan memiliki variasi memukul
yang berbeda-beda untuk membuat music kenthongan lebih menarik biasanya pada
music kenthongan di sertai tarian khas Banyumasan. Music khentongan paling
cocok untuk mengiringi lagu dengan irama yang cepat seperti dangdut dan
sebagainya, namun tidak menutup kemungkinan music kentongan digunakan untuk
mengiringi lagu dengan irama yang lambat atau slow. Kesenian khentongan biasa
di tampikan untuk menyambut pengunjung dan meramaikan tempat wisata, disamping
itu kesenian khentongan juga dimaksudkan untuk menjaga dan melestarikan budaya
local yang mulai hilang oleh budaya modern. Menurut dinas pariwisata dan
kebudayaan kabupaten banyumas pada tahun 2004 perkumpulan khentongan di daerah
Banyumas berjumlah 368 group namun saat ini ditahun 2016 jumlahnya bertambah
seiring dengan adanya kurikulum 2013 yang mendorong kebudayaan seni tersebut
belum lagi grup kentongan yang dijadikan sebagai media pencaharaian masyarakat
sebagai sarana hiburan dan rekreasi . Berikut saya seratakan foto-foto kesenian
ini.
Salah
satu foto kentongan sebagai media hiburan dan matapencaharian
Salah satu foto pada acara extravaganza Banyumas 2016
*salah satu foto pengrajin asal Desa Purwosari, Baturaden, Banyumas. Pak Imang.
· Pengrajin
asal Purbalingga bapak NUR AGUSTUS S.Pd selaku guru pengampu mata pelajaran
Seni Budaya di SMA N 1 Kejobong, Purbalingga. Dalam pembuatannya menggunakan
bambu Wulung. Yang sebelumnya di pesan secara khusus dan diangin-anginkan
selama dua minggu agar bambu kering. Untuk mengetes resonansi, bapak Nur
Agustus menggunakan alat musik organ.
C.
Perkembangan Kesenian Kentongan
Kesenian
khas Banyumasan yang sedang marak sekarang ini adalah seni kenthongan. Bentuk
kesenian karnaval atau drumband tradisional ini memang selalu menarik untuk
ditonton. Pertunjukannya yang bisa sambil berjalan/devile dan display/bermain
dalam seni konfigurasi, menjadi ciri khusus pertunjukan kesenian kenthongan.
Kesenian ini mulai muncul tahun 1997 dari kawasan Ajibarang, Banyumas, tepatnya
dari grumbul Tambakan, Desa Ajibarang Kulon, Banyumas. Awalnya disitu muncul
grup seni Thek-Thek Pring/Bambu. Karena musik bambu ini amat lentur untuk
mengiringi lagu-lagu jenis apapun, tak pelak kesenian ini amat cepat
berkembang. Bahkan tahun 2004 telah menjadi kesenian yang benar-benar marak dan
tumbuh dimana-mana. Hampir setiap RT se Kabupaten Banyumas memiliki grup
thek-thek atau kenthongan, tak hanya itu kesenian inipun berkembang hingga ke
wilayah eks Karesidenan Banyumas yaitu Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara.
Bahkan saking maraknya kesenian ini tumbuh, tahun 2004 pula seniman Edi
Romadhon mengumpulkan 25 grup kenthongan untuk bermain bersama dalam Orkestra
Kenthongan, dengan jumlah pemain 1050 orang. Seribu orang lebih ini selama 3
bulan berlatih bersama menggarap lagu-lagu populer Banyumasan seperti Megot,
Baturraden dan lagu pop/dangdut nasional seperti Kopi Lambada, Putri Panggung,
dengan format gerak konfiguratif yang menarik, dan instrumen pengiring yang
rancak. Hasilnya, rekor MURI pun terpecahkan, sebagai Orkestra Musik Kenthongan
dengan pemain terbanyak se dunia. Upaya pelestarian dan pengembangan kesenian
khas Banyumasan memang wajib dilakukan, terutama oleh seniman tradisi mereka
sendiri. Tokoh seniman Genjring Banyumasan, Kus Bendol mengaku salut atas pola
pengembangan yang dilakukan Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB). Selain
berbagai kesenian tradisional yang sudah berkembang tersebut dihidupkan dengan
berbagai cara, misalnya festival, juga ada pengembangan kreatif yang patut
menjadi contoh bagi daerah lain. Contohnya sekarang DKKB sedang mengembangkan kolaborasi antara seni
lengger calung dengan kenthongan dan genjring. Nama jenis kesenian baru ciptaan
DKKB ini adalah Cakenjring yang merupakan akronim dari Calung-Kenthong dan
Genjring. Ternyata kolaborasi ini amat menarik, karena nuansa agamis pun bisa
disajikan dalam format rancak gembira tak mendayu-dayu. Lewat aranger Edi
Romadhon dan Sungging Suharto, Cakenjring bakal pentas di Malaysia bulan
November besok. Ini sungguh menarik†kata Kus Bendol. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata
dan Kebudayaan (Disparbud) Banyumas, Darkam Anom Sugito mengakui, seiring
berjalannya waktu, sejumlah kesenian khas Banyumas ada yang tumbuh dan
tenggelam. Hal itu lantaran gejolak yang terjadi dalam tubuh cabang seni.
Antara lain tenggelam saat sudah tidak ada lagi generasi muda yang mau
meneruskan, atau semakin bertumbuh jika seni menjadi populer serta banyak yang
memperlajarinya.
D.
Keunikan dan Keunggulan Kentongan
Kesenian
music tradisional Khentongan yang semula berfungsi sebagai penggugah sahur di bulan ramadhan, dan
sebagai alat komunikasi atau penyambung
informasi kini berkembang dan menjadi sebuah kesenian yang dibanggakan oleh
masyarakat Banyumas. Khentongan jika diamati sepintas seolah-olah tidak ada
artinya. Ia merupakan kayu yang di lubangi hamper sama dengan panjang dan
besarnya kentongan. Kunci untuk membedakan dilihat dari kode suara dan
penabuhnya. Letak Banyumas yang berada di perbatasan antara budaya jawa dan
sunda, mempunyai warna music tersendiri. Pengaruh sunda terlihat dari cara
memainkan instrument perbendaharaan teknik cara memukul kendang, penyajian
suara penyanyi dan penggunaan instrumen
seerti angklung. Semua music banyumasan memakai tangga nada slendro (lima
nada). Susunan gubahan vocal sering menggunakan nada minor yang sama dengan
pelog (system 7 nada), namun dinyatakan dengan instrument gamelan bernada
slendro. Dengan penjelasan diatas, kami memilih music khentongan dikarenakan di
daerah banyumas terdapat sebuah kesenian
music yang sangat langka dan unik. Music tradisional khentongan ini, semua
alatnya terbuat dari bamboo yang di buat sedemikian rupa hingga bias dimainkan
yang nadanya di sesuaikan seperti pada alat music elektrik (keyboard).
BAB III
PENUTUP
Demikian
makalah tentang khentongan yang dapat kami sampaikan, mohon maaf apabila
terdapat kesalahan-kesalahan dalam isi atau ejaan penulisan. semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua.
A.
Kesimpulan
Dari
awal, kita semua mengerti bahwa Indonesia adalah Negara yang kaya akan suku,
adat, seni budaya. Masing-masing daerah memiliki simbol atau cirri khas daerah
mereka masing-masing. Termasuk Banyumas, Jawa Tengah, yang memiliki kesenian
khentongan. Diharapkan dengan lebih mengenal kesenian khentongan ini, kita
sebagai generasi muda terutama masyarakat local Banyumas, dapat lebih mencintai
dan melestarikan kesenian Khentongan.
Daftar Pustaka
· MGMP
Guru Seni budaya, 2010, Muatan Lokal Babad Banyumas untuk SMP.
· Herusatoto
Budiono, 2008, Banyumas. Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak, Yogyakarta : LKiS.
· https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Banyumas








