Nama : Vernanda Abimantrana
NIM : 2501415028
Mata Kuliah : Interaksi Belajar Mengajar
Rombel : 250340003 / Rabu Jam 09:00-10:40 / B2-213B
Tugas Akhir Membuat Artikiel Pembelajaran
Penerapan Keterampilan Memberi Penguatan Dalam Pembelajaran Musik Ansambel di Sekolah
(1.) Penguatan verbal
(2.)
Penguatan berupa mimik muka dan gerakan badan (gestural)
Penguatan berupa gerakan badan dan mimic muka
antara lain seperti: senyuman, anggukan kepal, acungan ibu jari, tepuk tangan, dan
sebagainya, sering kali digunakan bersamaan dengan penguatan verbal. Sebagai
contoh, ketika guru memberi penguatan verbal, “ pekerjaanmu baik sekali,” pada
saat itu guru menganggukkan kepalanya.
(3.)
Penguatan dengan cara mendekati anak
Siswa atau sekelompok siswa yang didekati guru
pada saat berlatih music ansambel dapat terkesan diperhatikan. Keadaan ini
dapat menghangatkan suasana belajar anakyang pada gilirannya dapat meningkatkan
motivasi. Kesan akrab juga dapat timbul dengan cara ini, akibatnya anak tidak
merasa dibebani tugas. Beberapa perilaku yang dapat dilakukan guru dalam
memberikan penguatan ini antara lain adalah berdiri disamping siswa atau
kelompok siswa, berjalan disisi siswa, dan sebagainya.
(4.)
Penguatan dengan sentuhan
Teknik
ini penggunaanya perlu mempertimbangkan latar belakang anak, umur, jenis
kelamin, serta latar belakang kebudayaan setempat. Dalam memberikan pengutan
ini, beberapa perilaku yang dapat dilakukan guru antara lain: menepuk pundak
atau bahu siswa, menjabat tangan siswa, mengelus rambut siswa, atau mengangkat
tangan siswa yang menang dalam pertandingan.
(5.)
Pengutan dengan kegiatan yang menyenangkan
Motivasi
belajar anak dipengaruhi pula oleh apakah oleh kegiatan belajar yang
dilaksanakan tersebut menyenangkan dirinya atau tidak. Bentuk kegitan belajar
yang disenangi anak dapat mempertinggi intensitas belajarnya.
Untuk
menguatkan gairah belajar, guru dapat memilih kegiatan – kegiatan belajar yang
disukai anak. Karena tiap – tiap anak memiliki kesukaran masing – masing, guru
perlu menyediakan berbagai alternative pilihan yang sesuai dengan kesuksesan
masing – masing anak. Dengan memberikan alternative kegiatan belajar yang
sesuai dengan kesukaan anak tersebut , maka hal itu bisa juga menjadi bentuk
penguatan bagi anak.
Dapat
juga penguatan ini diberikan sebagai akibat dari prestasi baik yang ditunjukan
anak. Misalnya, anak yang berprestasi dalam hasil belajarnya ditunjuk sebagai
pimpinan kelompok belajar.
(6.) Penguatan berupa symbol atau benda
Jenis
symbol atau benda yang diberikan diselaraskan dengan perkembangan anak. Untuk
anak tingkat sekolah dasar, berbeda dengan anak usia sekolah lanjutan. Anak SMA
yang berprestasi diberi penghargaan berupa pensil tentunya kurang relevan.
Penguatan berupa symbol atau benda ini dapat berupa piagam penghargaan, benda –
benda berupa alat – alat tulis dan buku dan dapat pula berupa komentar tertulis
pada buku anak. Perlu
diperhatikan dalam hal penggunaan penguatan yang berupa benda: hendaknya tujuan
belajar anak tidak mengarah pada benda tersebut. Oleh karena itu, perlu
dibatasi frekuensi penggunaanya.
Kesimpulannya Belajar mengajar
merupakan proses komunikasi, komunikasi yang berhasil dan lancar adalah apabila
penerima pesan mampu memahami isi pesan, namun demikian kadangkala pesan yang
disampaikan tidak biasa dipahami dengan baik atau bahkan dipahami berbeda oleh
setiap peserta didik sebagai penerima pesan belum lagi beberapa peserta didik
yang bersifat pasif dalam kegiatan pembelajaran . Untuk menyiasati kelemahan tersebut
maka dibutuhkan metode sebagai cara untuk mengefektifkan suasana pembelajaran. Oleh
sebab itu, seorang guru harus mampu Memberikan metode pembelajaran yang sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai salah satunya seperti dalam
metode pemberian penguatan pada siswa. Pemilihan penguatan hendaknya didasarkan
pada tujuan yang ingin dicapai dan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya
serta melihat kondisi dan lingkungan siswa.
Daftar Pustaka :
Azis, A. (2014). Kompetensi Guru Dalam Penggunaan
Media Dengan Mutu Pendidikan. Jurnal Pelopor Pendidikan.
Saragih, A. H. (2008). Kompetensi Minimal Seorang Guru Dalam Mengajar. Jurnal
Tabularasa.
Joseph, Wagiman.
2009. Akustik Hand Out. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni UNNES
Aesijah, Siti. 2010.
Hand-Out Kurikulum dan Pengembangan Materi. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Semarang.
NOTICE :
Jangan lupa berkomentar dibagian kolom komentar yaaa.. :)


Wah keren sangat membatu.. terimakasih gan!!
BalasHapus