Rabu, 26 Oktober 2022

CONTOH LAPORAN MAKALAH SEJARAH SENI KESENIAN KENTONGAN BANYUMAS

 

LAPORAN MAKALAH SEJARAH SENI KESENIAN KENTONGAN BANYUMAS

Oleh :
Vernanda Abimantrana ( 2501415028 )
Pendidikan Seni Musik

Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Semarang
2016


KATA PENGANTAR

         
          Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang Kesenian Kenthongan di Banyumas dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Siti Aesijah dan Bapak Hafid Zuhdan Batiar selaku Dosen mata kuliah Sejarah Seni UNNES yang telah memberikan tugas ini kepada saya.                                                  .
      

          Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Kesenian yang terdapat di Banyumas khususnya kesenian Kenthongan. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.                                            .
      

          Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi Saya sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Purwokerto, 1 Juni 2016

 

 

 

 

 


Vernanda Abimantrana




DAFTAR ISI
 

Kata Pengantar………………………………………………………..1
Daftar Isi………………………………………………………………2
BAB I Pendahuluan…………………………………………………..3
A. Latar Belakang…………………………………………………….3
B. Tujuan……………………………………………………………...3
C. Metode Penulisan………………………………………………….3
BAB II Isi……………………………………………………………..4
A. Sekilas Tentang Banyumas………………………………………..4
B. Apa Itu Kentongan ?.........................................................................4
C. Perkembangan Kesenian Kentongan………………………………8
D. Keunikan dan Keunggulan Kentongan…………………………….9
BAB III Penutup…………………………………………………….10
A. Kesimpulan……………………………………………………….10
Daftar Pustaka……………………………………………………….11



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

          Indonesia adalah negara yang memiliki beraneka jenis suku, adat dan budaya. Dan di setiap daerah pastinya memiliki seni budayanya sendiri. Mereka memiliki simbol tersendiri yang dapat membedakan daerah mereka dengan daerah lain. Bisa dibilang setiap daerah memiliki simbol daerahnya sendiri, baik di bidang seni, budaya, dan lain-lain. Adapun di daerah tempat kami berkuliah kini, yakni Kabupaten Banyumas, atau kota Purwokerto, memiliki simbol seni musik yang sering disebut “KENTONGAN”. Kita pasti tahu apa arti dari simbol budaya.

          Simbol budaya adalah suatu hal atau barang yang menjadi ciri khas atau identik setiap masing-masing budaya. Jika dilihat sekilas, mungkin kesenian ini terlihat sama seperti kesenian angklung dari jawa barat, karena kesenian ini sama-sama terbuat dari bambu. Maka dari itu kami menyusun makalah ini agar kita dapat lebih mengenal apa itu kesenian kenthongan dari Banyumas. Dengan harapan kita semua dapat mengenal baik  budaya kita sendiri, lalu dapat menjaganya agar kekayaan budaya kita tidak di rebut oleh bangsa lain.

B. Tujuan

          Maksud atau tujuan penyusunan makalah ini adalah memberikan gambaran tentang salah satu kekayaan seni dan budaya yang berasal dari Banyumas yaitu alat musik kentongan yang juga biasa disebut tek-tek Banyumasan kepada  pembaca yang memiliki ketertarikan kepada kebudayaan Banyumas dan memperkenalkannya secara singkat . Dengan harapan, kita sebagai genenrasi muda Indonesia lebih mengenal budaya kita sendiri, lalu tumbuh rasa sayang dan cinta untuk senantiasa menjaga kentongan sebagai harta seni yang berharga di  Negara Indonesia.

C. Metode Penulisan

          Penulis mempergunakan metode observasi dan searching. Cara-cara yang digunakan pada penelitian ini adalah : –Melakukan observasi terhadap kesenian Kentonngan yang ada di banyumas. –Mengamati musik Kenthongan yang saat ini juga sebagai media rekreasi - Browsing Dalam metode ini penulis membaca buku-buku referensi di situs internet yang  berkaitan dengan penulisan makalah ini.


BAB II
Isi

 

A. Sekilas Tentang Banyumas

 

          Banyumas adalah salah satu kabupaten di provinsi jawa tengah. Ibukotanya adalah Purwokerto. Kabupaten yang berada di selatan pulau jawa ini, memiliki luas 1.327,60 km atau setara dengan 132.759,56 ha. Wilayah ini terdiri antara daratan dan pegunungan dengan struktur daratan terdiri dari sebagian lembah Sungai Serayu untuk tanah pertanian, sebagian dataran tinggi untuk  pemukiman dan pekarangan, dan sebagian pegunungan untuk perkebunan dan hutan tropis terletak di lereng Gunung Slamet sebelah selatan. Bumi dan kekayaan Kabupaten Banyumas masih tergolong potensial karena terdapat Gunung Slamet dengan ketinggian puncak dari permukaan air laut sekitar 3.400M dan masih aktif. Keadaan cuaca dan iklim di Kabupaten Banyumas memiliki iklim tropis basah. Karena terletak di antara lereng pegunungan jauh dari pesisir pantai maka  pengaruh angin laut tidak begitu tampak. Namun dengan adanya dataran rendah yang seimbang dengan pantai selatan angin hampir nampak bersimpangan antara  pegunungan dengan lembah dengan tekanan rata-rata antara 1.001 mbs, dengan suhu udara berkisar antara 21,4° C - 30,9° C.

 

B. Apa itu Kentongan?

          Musik kentongan merupakan music khas masyarakat banyumas, Jawa Tengah. Kesenian yang mulai ramai pada tahun 1990 hingaa 2000-an ini dimainkan oleh 15-20 orang, dengan dipimpin seseorang atau dua orang mayoret. Sejarah budaya kentongan ini sebenarnya dimulai dari legenda Cheng Ho dari Cina, yang mengadakan perjalanan dengan misi keagamaan. Dalam perjalanan tersebut, Cheng Ho menemukan kentongan ini sebagai alat komunikasi ritual keagamaan.
          Penemuan kentongan tersebut dibawa ke Cina, Korea, dan Jepang. Kentongan ini sudah ditemukan sejak awal masehi. Dan setiap daerah tentunya memiliki sejarah  penemuan yang berbeda dengan nilai sejarah yang tinggi. Di Nusa tenggara Barat, kentongan ditemukan ketika Raja anak Agung Gede Ngurah yang berkuasa sekitar abad XIX, mereka menggunakannya untuk mengumpulkan masa. Di Yogyakarta ketika masa kerjaan Majapahit, kentongan Kyai Gorobangsa sering digunakan untuk mengumpulkan warga. Di Pengasih, kentongan ditemukan sebagai alat untuk menguji kejujuran calon pemimpin daerah. Sebenarnya kentongan tidak  jauh berbeda dengan calung, karena sama-sama dibuat dari bahan dasar bambu. Kentongan juga sering disebut dengan "tek-tek". Pada saat itu daerah yang sedang tenar-tenarnya memajukan kesenian tek-tek yaitu Banyumas dan Purbalingga. Kegiatan kentongan ini awalnya hanya untuk kesenangan orang meronda,  jumlahnya hanya 4-5 orang yang menggunakan kentongan untuk keliling desa.





            Alat musik yang digunakan disamping kentongan itu sendiri antara lain, angklung dan calung, untuk rhytme, suling, bass, untuk perkusi biasanya menggunakan kompang atau terbang di kombinasi dengan ketipung, simbal, dan drum mini. Dalam memainkan kentongan, dibutuhkan pemain yang cukup banyak untuk menghasilkan irama music yang ramai, karena satu pemain memukul satu irama kenthongan yang sama sepanjang lagu, sehingga tiap-tiap kenthongan memiliki variasi memukul yang berbeda-beda untuk membuat music kenthongan lebih menarik biasanya pada music kenthongan di sertai tarian khas Banyumasan. Music khentongan paling cocok untuk mengiringi lagu dengan irama yang cepat seperti dangdut dan sebagainya, namun tidak menutup kemungkinan music kentongan digunakan untuk mengiringi lagu dengan irama yang lambat atau slow. Kesenian khentongan biasa di tampikan untuk menyambut pengunjung dan meramaikan tempat wisata, disamping itu kesenian khentongan juga dimaksudkan untuk menjaga dan melestarikan budaya local yang mulai hilang oleh budaya modern. Menurut dinas pariwisata dan kebudayaan kabupaten banyumas pada tahun 2004 perkumpulan khentongan di daerah Banyumas berjumlah 368 group namun saat ini ditahun 2016 jumlahnya bertambah seiring dengan adanya kurikulum 2013 yang mendorong kebudayaan seni tersebut belum lagi grup kentongan yang dijadikan sebagai media pencaharaian masyarakat sebagai sarana hiburan dan rekreasi . Berikut saya seratakan foto-foto kesenian ini.


Salah satu foto kentongan sebagai media hiburan dan matapencaharian


Alat kentongan :

Salah satu foto pada acara extravaganza Banyumas 2016




*salah satu foto pengrajin asal
Desa Purwosari, Baturaden, Banyumas. Pak Imang.

 

·    Pengrajin asal Purbalingga bapak NUR AGUSTUS S.Pd selaku guru pengampu mata pelajaran Seni Budaya di SMA N 1 Kejobong, Purbalingga. Dalam pembuatannya menggunakan bambu Wulung. Yang sebelumnya di pesan secara khusus dan diangin-anginkan selama dua minggu agar bambu kering. Untuk mengetes resonansi, bapak Nur Agustus menggunakan alat musik organ.




C. Perkembangan Kesenian Kentongan

          Kesenian khas Banyumasan yang sedang marak sekarang ini adalah seni kenthongan. Bentuk kesenian karnaval atau drumband tradisional ini memang selalu menarik untuk ditonton. Pertunjukannya yang bisa sambil berjalan/devile dan display/bermain dalam seni konfigurasi, menjadi ciri khusus pertunjukan kesenian kenthongan. Kesenian ini mulai muncul tahun 1997 dari kawasan Ajibarang, Banyumas, tepatnya dari grumbul Tambakan, Desa Ajibarang Kulon, Banyumas. Awalnya disitu muncul grup seni Thek-Thek Pring/Bambu. Karena musik bambu ini amat lentur untuk mengiringi lagu-lagu jenis apapun, tak pelak kesenian ini amat cepat berkembang. Bahkan tahun 2004 telah menjadi kesenian yang benar-benar marak dan tumbuh dimana-mana. Hampir setiap RT se Kabupaten Banyumas memiliki grup thek-thek atau kenthongan, tak hanya itu kesenian inipun berkembang hingga ke wilayah eks Karesidenan Banyumas yaitu Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara. Bahkan saking maraknya kesenian ini tumbuh, tahun 2004 pula seniman Edi Romadhon mengumpulkan 25 grup kenthongan untuk bermain bersama dalam Orkestra Kenthongan, dengan jumlah pemain 1050 orang. Seribu orang lebih ini selama 3 bulan berlatih bersama menggarap lagu-lagu populer Banyumasan seperti Megot, Baturraden dan lagu pop/dangdut nasional seperti Kopi Lambada, Putri Panggung, dengan format gerak konfiguratif yang menarik, dan instrumen pengiring yang rancak. Hasilnya, rekor MURI pun terpecahkan, sebagai Orkestra Musik Kenthongan dengan pemain terbanyak se dunia. Upaya pelestarian dan pengembangan kesenian khas Banyumasan memang wajib dilakukan, terutama oleh seniman tradisi mereka sendiri. Tokoh seniman Genjring Banyumasan, Kus Bendol mengaku salut atas pola pengembangan yang dilakukan Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB). Selain berbagai kesenian tradisional yang sudah berkembang tersebut dihidupkan dengan berbagai cara, misalnya festival, juga ada pengembangan kreatif yang patut menjadi contoh bagi daerah lain. Contohnya sekarang DKKB sedang mengembangkan kolaborasi antara seni lengger calung dengan kenthongan dan genjring. Nama jenis kesenian baru ciptaan DKKB ini adalah Cakenjring yang merupakan akronim dari Calung-Kenthong dan Genjring. Ternyata kolaborasi ini amat menarik, karena nuansa agamis pun bisa disajikan dalam format rancak gembira tak mendayu-dayu. Lewat aranger Edi Romadhon dan Sungging Suharto, Cakenjring bakal pentas di Malaysia bulan November besok. Ini sungguh menarik” kata Kus Bendol. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Banyumas, Darkam Anom Sugito mengakui, seiring berjalannya waktu, sejumlah kesenian khas Banyumas ada yang tumbuh dan tenggelam. Hal itu lantaran gejolak yang terjadi dalam tubuh cabang seni. Antara lain tenggelam saat sudah tidak ada lagi generasi muda yang mau meneruskan, atau semakin bertumbuh jika seni menjadi populer serta banyak yang memperlajarinya.

 

D. Keunikan dan Keunggulan Kentongan

 

          Kesenian music tradisional Khentongan yang semula berfungsi sebagai  penggugah sahur di bulan ramadhan, dan sebagai alat komunikasi atau  penyambung informasi kini berkembang dan menjadi sebuah kesenian yang dibanggakan oleh masyarakat Banyumas. Khentongan jika diamati sepintas seolah-olah tidak ada artinya. Ia merupakan kayu yang di lubangi hamper sama dengan panjang dan besarnya kentongan. Kunci untuk membedakan dilihat dari kode suara dan penabuhnya. Letak Banyumas yang berada di perbatasan antara budaya jawa dan sunda, mempunyai warna music tersendiri. Pengaruh sunda terlihat dari cara memainkan instrument perbendaharaan teknik cara memukul kendang, penyajian suara  penyanyi dan penggunaan instrumen seerti angklung. Semua music banyumasan memakai tangga nada slendro (lima nada). Susunan gubahan vocal sering menggunakan nada minor yang sama dengan pelog (system 7 nada), namun dinyatakan dengan instrument gamelan bernada slendro. Dengan penjelasan diatas, kami memilih music khentongan dikarenakan di daerah  banyumas terdapat sebuah kesenian music yang sangat langka dan unik. Music tradisional khentongan ini, semua alatnya terbuat dari bamboo yang di buat sedemikian rupa hingga bias dimainkan yang nadanya di sesuaikan seperti pada alat music elektrik (keyboard).



BAB III
PENUTUP

 

          Demikian makalah tentang khentongan yang dapat kami sampaikan, mohon maaf apabila terdapat kesalahan-kesalahan dalam isi atau ejaan penulisan. semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

A. Kesimpulan

          Dari awal, kita semua mengerti bahwa Indonesia adalah Negara yang kaya akan suku, adat, seni budaya. Masing-masing daerah memiliki simbol atau cirri khas daerah mereka masing-masing. Termasuk Banyumas, Jawa Tengah, yang memiliki kesenian khentongan. Diharapkan dengan lebih mengenal kesenian khentongan ini, kita sebagai generasi muda terutama masyarakat local Banyumas, dapat lebih mencintai dan melestarikan kesenian Khentongan.


 

Daftar Pustaka

 

·    MGMP Guru Seni budaya, 2010, Muatan Lokal Babad Banyumas untuk SMP.

·    Herusatoto Budiono, 2008, Banyumas. Sejarah, Budaya, Bahasa, dan Watak, Yogyakarta : LKiS.

·    https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Banyumas


Senin, 03 Oktober 2022

CONTOH TUGAS AKHIR IBM (INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR) VAMBELAJAR


Nama : Vernanda Abimantrana
NIM : 2501415028
Mata Kuliah : Interaksi Belajar Mengajar
Rombel : 250340003 / Rabu Jam 09:00-10:40 / B2-213B
Tugas Akhir Membuat Artikiel Pembelajaran

Penerapan Keterampilan Memberi Penguatan Dalam Pembelajaran Musik Ansambel di Sekolah

     Kata ansambel berasal dari bahasa prancis. Ansambel berarti suatu rombongan musik. Sedangkan pengertian ansambel menurut kamus musik, ansambel adalah kelompok kegiatan musik dengan jenis kegiatan seperti yang tercantum dalam sebutannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, musik ansambel adalah bermain musik secara bersama-sama dengan menggunakan beberapa alat musik tertentu serta memainkan lagu-lagu dengan aransemen sederhana. Dalam kegiatan belajar sering kita jumpai pembelajaran music ansambel khususnya mata pelajaran Seni Musik atau Seni Budaya di sekolah. Dalam pembelajaran Musik Ansambel disekolah sering kita jumpai beberapa permasalahan yaitu diantaranya : (1) kurangnya keaktifan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, (2) peserta didik kurang memahami secara lebih nyata sesuai dengan faktanya tentang materi yang disampaikan oleh guru, (3) guru kurang maksimal dalam memberikan fungsi masing-masing instrumen yang digunakan oleh peserta didik dalam pembelajaran musik ansambel. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan tujuan penulisan artikel ini yaitu : (1) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan pemberian penguatan dalam pembelajaran music ansambel disekolah. (2) Untuk mengetahui dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat Pembelajaran Musik Ansambel disekolah.

     Tingkat partisipasi aktif peserta didik dalam proses belajar merupakan salah satu indikator proses belajar yang berkualitas. Rasa keterlibatan yang dilandasi oleh motivasi dan minat yang tinggi dari pihak peserta didik dalam mengikuti proses belajar di kelas merupakan indikator dari proses yang berkualitas. Soedijarto (1991: 161) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mmempengaruhi langsung proses belajar adalah guru dan pelajar, namun yang paling berpengaruh terhadap mutu hasil belajar adalah latar belakang kognitif pelajar disusul dengan sistem evaluasi dan kualitas proses belajar. Sedang yang mempengaruhi langsung kepada guru adalah materi dan sistem penyajian bahan, sistem administrasi, dan sistem evaluasi. Dengan memberikan penguatan dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermanfaat bagi pendidik dan siswa. Adapun beberapa metode yang digunakan dalam pemberian penguatan yaitu :

(1.)  
Penguatan verbal
     Komentar guru berupa kata – kata pujian, dukungan, dan pengakuan dapat digunakan untuk penguatan tingkah laku dan kinerja siswa. Komentar demikian merupakan balikan yang diberikan guru atas kinerja maupun perilaku siswa. Contoh : Bagus!! permainan musik ansambel kalian sudah rapid an enak didengarkan.

(2.) Penguatan berupa mimik muka dan gerakan badan (gestural)
     Penguatan berupa gerakan badan dan mimic muka antara lain seperti: senyuman, anggukan kepal, acungan ibu jari, tepuk tangan, dan sebagainya, sering kali digunakan bersamaan dengan penguatan verbal. Sebagai contoh, ketika guru memberi penguatan verbal, “ pekerjaanmu baik sekali,” pada saat itu guru menganggukkan kepalanya.

(3.) Penguatan dengan cara mendekati anak
     Siswa atau sekelompok siswa yang didekati guru pada saat berlatih music ansambel dapat terkesan diperhatikan. Keadaan ini dapat menghangatkan suasana belajar anakyang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi. Kesan akrab juga dapat timbul dengan cara ini, akibatnya anak tidak merasa dibebani tugas. Beberapa perilaku yang dapat dilakukan guru dalam memberikan penguatan ini antara lain adalah berdiri disamping siswa atau kelompok siswa, berjalan disisi siswa, dan sebagainya.

(4.) Penguatan dengan sentuhan
     Teknik ini penggunaanya perlu mempertimbangkan latar belakang anak, umur, jenis kelamin, serta latar belakang kebudayaan setempat. Dalam memberikan pengutan ini, beberapa perilaku yang dapat dilakukan guru antara lain: menepuk pundak atau bahu siswa, menjabat tangan siswa, mengelus rambut siswa, atau mengangkat tangan siswa yang menang dalam pertandingan.

(5.) Pengutan dengan kegiatan yang menyenangkan
     Motivasi belajar anak dipengaruhi pula oleh apakah oleh kegiatan belajar yang dilaksanakan tersebut menyenangkan dirinya atau tidak. Bentuk kegitan belajar yang disenangi anak dapat mempertinggi intensitas belajarnya. 
     Untuk menguatkan gairah belajar, guru dapat memilih kegiatan – kegiatan belajar yang disukai anak. Karena tiap – tiap anak memiliki kesukaran masing – masing, guru perlu menyediakan berbagai alternative pilihan yang sesuai dengan kesuksesan masing – masing anak. Dengan memberikan alternative kegiatan belajar yang sesuai dengan kesukaan anak tersebut , maka hal itu bisa juga menjadi bentuk penguatan bagi anak.
     Dapat juga penguatan ini diberikan sebagai akibat dari prestasi baik yang ditunjukan anak. Misalnya, anak yang berprestasi dalam hasil belajarnya ditunjuk sebagai pimpinan kelompok belajar.

(6.) Penguatan berupa symbol atau benda
     Jenis symbol atau benda yang diberikan diselaraskan dengan perkembangan anak. Untuk anak tingkat sekolah dasar, berbeda dengan anak usia sekolah lanjutan. Anak SMA yang berprestasi diberi penghargaan berupa pensil tentunya kurang relevan. Penguatan berupa symbol atau benda ini dapat berupa piagam penghargaan, benda – benda berupa alat – alat tulis dan buku dan dapat pula berupa komentar tertulis pada buku anak. 
Perlu diperhatikan dalam hal penggunaan penguatan yang berupa benda: hendaknya tujuan belajar anak tidak mengarah pada benda tersebut. Oleh karena itu, perlu dibatasi frekuensi penggunaanya.

     Kesimpulannya Belajar mengajar merupakan proses komunikasi, komunikasi yang berhasil dan lancar adalah apabila penerima pesan mampu memahami isi pesan, namun demikian kadangkala pesan yang disampaikan tidak biasa dipahami dengan baik atau bahkan dipahami berbeda oleh setiap peserta didik sebagai penerima pesan belum lagi beberapa peserta didik yang bersifat pasif dalam kegiatan pembelajaran . Untuk menyiasati kelemahan tersebut maka dibutuhkan metode sebagai cara untuk mengefektifkan suasana pembelajaran. Oleh sebab itu, seorang guru harus mampu Memberikan metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai salah satunya seperti dalam metode pemberian penguatan pada siswa. Pemilihan penguatan hendaknya didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai dan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya serta melihat kondisi dan lingkungan siswa.

Daftar Pustaka : 

Azis, A. (2014). Kompetensi Guru Dalam Penggunaan Media Dengan Mutu Pendidikan. Jurnal Pelopor Pendidikan.

Saragih, A. H. (2008). Kompetensi Minimal Seorang Guru Dalam Mengajar. Jurnal Tabularasa.

Joseph, Wagiman. 2009. Akustik Hand Out. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni UNNES

Aesijah, Siti. 2010. Hand-Out Kurikulum dan Pengembangan Materi. Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.


NOTICE :
Jangan lupa berkomentar dibagian kolom komentar yaaa.. :)